Tampilkan postingan dengan label hama penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hama penyakit. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Juni 2011

MENGEMBANGKAN INSEKTISIDA BIOLOGI BEAUVERIA BASSIANA

mengembangkan-beauveria-bassiana Salam Pertanian!! Beberapa waktu lalu kita telah belajar tentang apa itu insektisida biologi Beauveria bassiana, kini kita akan belajar cara sederhana mengembangkan insektisida biologi jamur Beauveria bassiana. Tentunya masih bersama Gerbang pertanian.

Sebenarnya sangat mudah mengembangkan jamur ini, kalau rekan-rekan Gerbang Pertanian pernah membaca artikel terdahulu kami tentang cara mengembangkan jamur Trichoderma sp pasti sudah nggak asing lagi dengan cara mengembangkan jamur Beauveria bassiana.

Adapun alat dan bahan yang perlu dipersiapkan untuk mengembangkan Insektisida biologi  jamur Beauveria bassiana adalah:

  1. Isolat jamur Beauveria bassiana
  2. Ember atau baskom kecil
  3. Baskom peniris
  4. Plastik 1/4 kg dengan ketebalan 0,4 sepuluh buah
  5. Lilin lima buah
  6. Steples
  7. Kawat atau sendok kecil spatula
  8. Panci Dandang
  9. Alkohol 75 %
  10. Air bersih
  11. Beras giling atau jagung giling 1 kg

Kalau alat bahan telah lengkap sekarang bersama maspary kita praktekkan cara membuatnya:

  1. Cuci bersih beras dan rendam selama 24 jam
  2. Tiriskan sampai kering
  3. Masukkkan beras kedalam plastik @ 100 gr
  4. Lipat ujung plastik
  5. Masak beras dengan cara di kukus selama kurang lebih 1,5 � 2 jam
  6. Setelah dingin angkat beras tersebut dari panci dandang
  7. Nyalakan lilin 5 buah dan letakkan membentuk setengah lingkaran dimeja
  8. Masukkan kawat atau sendok spatula kedalam alkohol dan bakar  di salah satu lilin tersebut
  9. Setelah kawat agak dingin ambil sebagian isolat dalam tabung reaksi dan masukkan kedalam beras
  10. Lipat beberapa kali ujung plastik dan steples
  11. Letakkan dalam suhu kamar sampai 7-14 hari
  12. Jika sudah tumbuh miselium berwarna putih secara penuh berarti insektisida biologi Beauveria bassiana siap digunakan.

Setelah Insektisida biologi Beauveria bassiana telah siap kini saatnya menggunakannya untuk beberapa jenis serangga, wereng, walang sangit, ulat, kumbang dll. Mari kita coba aplikasikan insektisida tersebut bersama Gerbang Pertanian:

  1. Ambil salah satu beras dalam plastik yang telah ditumbuhi meselium Beauveria basiana
  2. Cuci dengan air 1 liter dengan cara diremas-remas sampai bersih
  3. Saring dengan kain, ambil air cuciannya.
  4. Campurkan air tersebut dengan air 14 � 17 liter dan masukkan kedalam tangki sprayer.
  5. Semprotkan ke tanaman dengan frekuensi 1 minggu sekali. Jika serangan berat bisa seminggu 2 kali.
  6. Jangan lupa nyemprotnya sore hari ya, karena kalau siang hari jamur Beauveria basiana akan mati kepanasan.

Masih ada yang belum jelas tentang cara mengembangkan insektisida biologi Beauveria bassiana dan cara pengaplikasiannya di lapangan? silahkan hubungi maspary SMS aja ya�  Penginnya sih telpon cuma kalo telpon kadang-kadang timingnya yang nggak tepat.

Sekian dulu pertemuan dengan Gerbang Pertanian kali ini dengan tema Mengembangkan Insektisida Biologi Beuveria Bassiana. Smoga bisa memberikan sedikit pencerahan bagi rekan-rekan yang sedang haus akan ilmu pertanian khususnya pertanian organik. Jika ada kesalahan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya (maspary).

Jumat, 17 Juni 2011

TIPS MENGENDALIKAN HAMA ULAT TANAH

ulat-tanahSalam Pertanian!! Ulat tanah atau jika para ilmuwan menyebutnya dengan  Agrotis ipsilon, merupakan hama yang gampang-gampang susah dalam mengendalikannya. Berikut akan Gerbang Pertanian sampaikan cara cerdas mengendalikan hama ulat tanah pada tanaman kubis dan kentang. Sedikit tulisan ini merupakan buah pengalaman dari maspary ketika masih berpetualang di daerah dataran tinggi Dieng Kab. Wonosobo.

Hama ulat tanah (Agrotis ipsilon)  bagi para petani kentang dan kubis merupakan hama utama tanaman tersebut, kemungkinan sumber hama ulat tanah tersebut berasal dari penggunaan kotoran ayam dan sapi. Namanya juga ulat tanah maka ia hidup dalam tanah, ulat tersebut akan bersembunyi dalam tanah jika siang hari. Ketika sore atau malam hari mereka baru keluar untuk mencari makan. Ulat tanah berwarna hitam dengan pupa/ kepongpong berwarna coklat. imago berwarna abu-abu dengan sayap berwarna coklat. Imago betina mampu bertelur hingga 1800 butir. Mantap ya�..  Hama ulat tanah ini akan menyerang ketika tanaman kentang dan kubis masih muda. Hama tersebut akan menyerang dengan cara memotong batang tanaman kentang dan kubis ketika masih muda. Dan jelas setelah terpotong tanaman tersebut akan mati.

Berikut Gambar imago ulat tanah

imago-ulat-tanah

Kalau kita melihat kasus ulat tanah (Agrotis sp) yang hidup dalam tanah terasa akan sulit mengendalikannya dan pasti kita akan berfikir kalau insektisida yang mampu mengendalikan hama ulat tanah tersebut adalah insektisida yang bekerja secara sistemik. Ternyata ada insektisida golongan piretroid sintetik yang mampu mengendalikan hama ini secara baik. Maspary katakan secara baik karena biasanya setelah aplikasi insektisida ini selang satu hari banyak ulat tanah yang terlihat  mati dan keluar dari tanah. Kasus ini masih perlu jawaban, kenapa ulat yang hidupnya dalam tanah bisa mati dengan insektisida yang bekerja secara kontak dari golongan piretroid sintetik.

Pasti pembaca Gerbang Pertanian penasaran dan bertanya dalam hati insektisida apakah tersebut? Insektisida tersebut dari golongan piretroid sintetik dengan bahan aktif betasiflutrin.  Kebetulan waktu itu yang kami gunakan adalah insektisida dengan nama dagang buldok yang dipasarkan PT. Bayer Cropscience. Sehingga waktu itu sampai muncul anggapan kalau buldok adalah spesialis pengendali ulat tanah. Pengaplikasian buldok dengan bahan aktif betasiflutrin tersebut sebaikknya dilakukan pada saat sore hari.

Semoga artikel dari Gerbang Pertanian yang berjudul tips mengendalikan hama ulat tanah diatas bisa bermanfaat untuk kita semua terutama bagi petani yang sedang mengalami kendala serangan ulat tanah. Tujuan tulisan diatas bukanlah bermaksud untuk mempromosikan salah satu produk pestisida tetapi karena pengalaman saya semata (maspary).

Jumat, 10 Juni 2011

TEHNIK MENCAMPUR PESTISIDA YANG TEPAT

aplikasi-pestisida Sudah beberapa pembaca Gerbang Pertanian yang sharing dan menanyakan bagaimana tehnik mencampur pestisida yang tepat. Itulah sebabnya kenapa maspary ingin menulis artikel ini. Sebenarnya artikel ini merupakan kelanjutan dari tulisan kami terdahulu tentang Cara Tepat Aplikasi Pestisida.

Memang belum ada petunjuk ataupun panduan yang memberikan wawasan bagaimana tehnik mencampur pestisida yang tepat. Oleh karena itu masih banyak petani yang melakukan pencampuran pestisida secara sembarangan tetapi ada juga petani yang tidak berani sama sekali mencampur pestisida karena takut pestisida yang dicampur tersebut akan bereaksi tidak menguntungkan bagi tanaman. Oleh karena itu maspary memberanikan diri memberikan sedikit tips bagaimana tehnik mencampur pestisida yang tepat.

Maspary berani menulis artikel ini bukan berdasarkan referensi suatu buku melainkan hanyalah berdasarkan pengalaman kami dilapangan beberapa waktu yang lalu ketika kami bertugas di Dieng  Kab. Wonosobo.

Menurut maspary ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tehnik mencampur pestisida yang tepat:

  1. Janganlah mencampur pestisida langsung dalam tangki sprayer (hal ini seringkali maspary temui dilapangan),  sebaiknya lakukan pencampuran pestisida dalam wadah plastik terlebih dahulu (ember). Setelah tercampur dalam ember baru masukkan dalam dalam tangki sprayer.
  2. Jangan mencampur pestisida langsung dalam kaleng/ kemasannya tanpa mengencerkannya terlebih dahulu dengan air. (peristiwa ini juga sering maspary jumpai pada petani yang ingin serba praktis, atau terkadang merahasiakan pemakaian pestisidanya)
  3. Jangan mencampur 2 pestisisida atau lebih dalam satu golongan, sebagai contoh: Piretroid sintetik dengan piretroid sintetik atau karbamat dengan karbamat.
  4. Jangan mencampur 2 pestisida atau lebih yang mempunyai cara kerja sama, sebagai contoh: Racun pernafasan dengan racun pernafasan, kontak dengan kontak atau sistemik dengan sistemik.
  5. Kalau ingin mencampur pestisida sebaiknya lakukan pencampuran pestisida yang bersifat kontak dengan pestisida yang bersifat sistemik. Jika ingin mengendalikan penyakit pada suatu tanaman dan terpaksa harus mencampur fungisidanya pilih yang bersifat kontak dan yang bersifat sistemik. Fungisida kontak biasanya bersepektrum luas dan biasanya hanya bersifat mencegah/ melindungi atau protektif  karena fungisida ini multisite inhibitor sedang fungisida sistemik biasanya bersepektrum sempit dan bersifat eradikatif atau mengobati karena fungisida ini mempunyai cara kerja monosite inhibitor.
  6. Urutkan mencampur pestisida sesuai dengan formulasinya.  Menurut pengalaman maspary dalam melakukan pencampuran pestisida mulailah dengan pestisida yang berformulasi WDG, WP ataupun yang berbentuk tepung yang lain aduk hingga larut. Yang kedua baru masukkan PPC atau pupuk daun jika menggunakan pupuk daun dan aduk dulu sampai campur. Langkah yang ketiga masukkan pestisida yang berformulasi SL, WSC, SC dll lalu aduk sampai larut. Yang keempat masukkan pestisida yang berformulasi EC dan terakhir baru masukka perekat, perata, penembus dll.
  7. Perhatian!! Setelah anda mencampur pestisida seperti urutan no 5 diatas ada hal lain yang perlu diperhatikan.  Jangan menggunakan campuran pestisisida yang larutannya menggumpal dan atau mengendap. Berdasarkan pengalaman maspary biasanya campuran pestisida yang mengendap atau menggumpal jika diaplikasi ke tanaman akan bisa merusak tanaman atau terkadang tidak berfungsi sama sekali.
  8. Ada tips tambahan dari maspary yang perlu diketahui pembaca Gerbang Pertanian semua, yaitu bahwa pencampuran insektisida golongan piretroid sintetik dengan insektisida golongan organophospat akan meningkatkan efikasinya, ibaratnya 1 + 1 = 3. Tapi jangan mencampur insektisida golongan organophospat dengan golongan karbamat karena akan menurunkan efikasinya ( 1 + 1 = 1).

Semoga dengan tulisan dari Gerbang Pertanian ini bisa memberikan manfaat bagi pembaca semua yang akan mengaplikasi pestisida dan bisa memberikan sedikit pencerahan bagi yang sedang bingung mau mencampur pestisida. Dan harapan dari Gerbang Pertanian semoga artikel ini bisa menyumbangkan keberhasilan bertani bagi petani Indonesia.(Maspary)

Kamis, 02 Juni 2011

INSEKTISIDA BIOLOGI BEAUVERIA BASSIANA

bioinsektisida-beauveria-bassiana-2 Rekan-rekan petani dan pecinta pertanian semua, kali ini Gerbang Pertanian akan sedikit mengulas tentang jamur atau cendawan musuh alami dari berbagai jenis serangga hama yaitu Beauveria bassiana. Cendawan ini biasa dikenal sebagai cendawan patogen serangga yaitu cendawan yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga. Cara kerjanya cendawan ini akan membuat sakit serangga hama baru kemudian menyebabkan hama tersebut mati. Beberapa contoh serangga yang dapat dikendalian oleh Beauveria bassiana antara lain berbagai jenis wereng, walang, walang sangit, ulat, lembing dan sundep beluk (penggerek batang).

Beauveria bassiana secara alami terdapat didalam tanah sebagai jamur saprofit. Pertumbuhan jamur di dalam tanah sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, seperti kandungan bahan organik, suhu, kelembapan, kebiasaan makan serangga, adanya pestisida sintetis, dan waktu aplikasi.Secara umum, suhu di atas 30 �C, kelembapan tanah yang berkurang dan adanya antifungal atau pestisida dapat menghambat pertumbuhannya.


Cara cendawan Beauvaria bassiana menginfeksi tubuh serangga dimulai dengan kontak inang, masuk ke dalam tubuh inang, reproduksi di dalam satu atau lebih jaringan inang, kemudian kontak dan menginfeksi inang baru.

Menurut beberapa artikel yang maspary baca Beauveria bassiana masuk ke tubuh serangga inang melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya. Inokulum jamur yang menempel pada tubuh serangga inang akan berkecambah dan berkembang membentuk tabung kecambah, kemudian masuk menembus kulit tubuh. Penembusan dilakukan secara mekanis dan atau kimiawi dengan mengeluarkan enzim atau toksin.Pada proses selanjutnya, jamur akan bereproduksi di dalam tubuh inang. Jamur akan berkembang dalam tubuh inang dan menyerang seluruh jaringan tubuh, sehingga serangga mati. Miselia jamur menembus ke luar tubuh inang, tumbuh menutupi tubuh inang dan memproduksi konidia.Dalam hitungan hari, serangga akan mati. Serangga yang terserang jamur Beauveria bassiana akan mati dengan tubuh mengeras seperti mumi dan jamur menutupi tubuh inang dengan warna putih.

Dalam infeksinya, Beauveria bassiana akan terlihat keluar dari tubuh serangga terinfeksi mula-mula dari bagian alat tambahan (apendages) seperti antara segmen-segmen antena, antara segmen kepala dengan toraks , antara segmen toraks dengan abdomen dan antara segmen abdomen dengan cauda (ekor).Setelah beberapa hari kemudian seluruh permukaan tubuh serangga yang terinfeksi akan ditutupi oleh massa jamur yang berwarna putih.Penetrasi jamur entomopatogen sering terjadi pada membran antara kapsul kepala dengan toraks atau diantara segmen-segmen apendages demikian pula miselium jamur keluar pertama kali pada bagian-bagian tersebut.

Dari informasi yang diperoleh Gerbang Pertanian telah diketahui lebih dari 175 jenis serangga hama yang menjadi inang jamur Beauveria bassiana . Hebat bukan??? Berdasarkan hasil kajian jamur ini efektif mengendalikan hama walang sangit (Leptocorisa oratorius) dan wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) pada tanaman padi serta hama kutu (Aphis sp.) pada tanaman sayuran. Sebagian contoh lain yang menjadi inang jamur B. bassiana adalah jangkrik, ulat sutra, dan semut merah. Karena B.bassiana dapat menyerang hampir semua jenis serangga, cendawan ini digolongkan ke dalam non-selektif pestisida sehingga dianjurkan tidak digunakan pada tanaman yang pembuahannya dibantu oleh serangga.

Penggunaan jamur ini untuk membasmi hama dapat dilakukan dengan beberapa metode. Jamur ini bisa dipakai untuk jebakan hama. Adapun cara penggunaanya yaitu dengan memasukkan Beauveria bassiana beserta alat pemikat berupa aroma yang diminati serangga (feromon) ke dalam botol mineral. Serangga akan masuk ke dalam botol dan terkena spora. Akhirnya menyebabkan serangga tersebut terinfeksi. Cara aplikasi lain yaitu dengan metode penyemprotan.

Serangga yang telah terinfeksi Beauveria bassiana selanjutnya akan mengkontaminasi lingkungan, baik dengan cara mengeluarkan spora menembus kutikula keluar tubuh inang, maupun melalui fesesnya yang terkontaminasi. Serangga sehat kemudian akan terinfeksi. Jalur ini dinamakan transmisi horizontal patogen (inter/intra generasi).

Menurut Gerbang Pertanian ada kendala dilapangan dalam aplikasi pestisida biologis, yaitu pestisida biologis sangat peka terhadap keadaan lingkungan. Jika aplikasi pestisida biologis tersebut pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan bagi perkembangan pestisida tersebut maka aplikasi pestisida biologis akan kurang efektif. Sebagai contoh jika suhu terlalu panas atau dingin, kelembaban terlalu rendah, angin terlalu kencang dll. Maka dalam aplikasi pestisida biologis sangat perlu diperhatikan keadaan lingkungan.

Demikian sekelumit artikel tentang Beauveria bassiana yang bisa digunakan sebagai salah satu alternatif non kimia pengendalian hama-hama pada tanama pangan maupun hortikultura. Harapan Maspary dan Gerbang Pertanian semoga artikel tersebut bisa memberikan wawasan baru dan sumber inspirasi dalam mengendalikan hama pada tanaman (maspary).

Kamis, 26 Mei 2011

CARA MENGENDALIKAN HAMA WALANG SANGIT (Leptocorisa acuta)

mengendalikan-hama-walang-sangit Salam Pertanian! Saya kira cara mengendalikan hama walang sangit (Leptocorisa acuta)merupakan hal yang tidak perlu saya ulas karena saya anggap semua petani telah memahaminya. Ternyata  masih ada beberapa SMS yang masuk ke HP yang menanyakan bagaimana cara mengendalikan hama walang sangit ini. Oleh karena itu saya kira Gerbang Pertanian perlu mengulasnya lagi dengan versinya sendiri.

Menurut Maspary ada hal yang perlu diperhatikan tentang hama walang sangit ini, yaitu bahwa hama ini memakan inangnya dengan cara menghisap. Walang sangit  menjadi hama pada tanaman padi ketika dia menghisap cairan yang berada di bulir padi. Oleh karena itu walang sangit akan menjadi hama ketika menyerang padi yang telah mulai masuk pada fase pengisian bulir. Lebih jelasnya bahwa walaupun ada walang sangit pada tanaman padi kita tetapi jika tanaman padi tersebut tidak dalam fase pengisian bulir maka walang sangit tersebut bukanlah hama dan tidak perlu kita kendalikan.

Sebenarnya cara mengendalikan hama walang sangit sangatlah mudah karena menurut pengalaman kami dengan insektisida yang murahan pun bisa kita kendalikan. Akan tetapi Gerbang Pertanian disini akan sedikit menekankan bukan hanya mengendalikan hama walang sangit tetapi juga memperhatikan faktor hama lain. Karena yang saya amati didaerah kami dalam mengendalikan hama ini petani selalu mengutamakan faktor kepuasan, maksudnya petani selalu menggunakan insektisida yang punya efek knockdown tinggi. Sehingga beberapa menit setelah semprot hama walang sangit akan langsung jatuh atau mati menempel di tanaman padi. Dengan kejadian ini biasanya petani sangat puas. Padahal insektisida yang punya efek knockdown tinggi biasanya dari golongan piretroid sintetik seperti fastac (alfa sipermetrin), matador (lamda sihalotrin), buldok (betasiflutrin), decis (deltametrin), sidametrin (sipermetrin) dll. Berkali-kali telah saya sarankan kepada pembaca Gerbang Pertanian semua bahwa penggunaan insektisida golongan piretroid sintetik pada tanaman padi akan bisa memacu ledakan hama wereng. Baca tulisan Maspary yang berjudul Bahaya Insektisida Piretroid Sintetik Pada Tanaman Padi.

Yang menjadi pertanyaan � lalu insektisida apa yang tepat untuk hama walang sangit ini ?�  banyak insektisida yang bisa kita gunakan untuk mengendalikan hama walang sangit ini kalau bisa kita cari yang cara kerjanya secara sistemik dan tentunya yang telah direkomendasikan pada tanaman padi oleh KOMPES (komisi pestisida). Kenapa saya sarankan menggunakan insektisida yang mempunyai cara kerja sistemik karena menurut saya dengan insektisida ini kita akan lebih lama melindungi tanaman padi dan biasanya akan relatif lebih aman terhadap musuh alami. Namun yang menjadi tidak bisa memuaskan nafsu petani adalah bahwa insektisida dengan cara kerja sistemik biasanya tidak mempunyai efek knockdown sehingga tidak bisa langsung mematikan hama walang sangit, tetapi menunggu sampai sehari semalam biasanya baru terlihat hasilnya. Banyak pilihan insektisida yang mempunyai cara kerja sistemik yang direkomendasikan untuk padi seperti spontan, regent, sponsor, virtako dll. Pilih saja sesuai dengan kemampuan kantong anda.

Bagi anda yang menanam padi secara organik Gerbang Pertanian telah menulis beberapa resep Insektisida organik yang bisa digunakan untuk mengendalikan hama ini. Anda bisa juga menggunakan bio-insektisida seperti Beauveria sp dan Mettarrhizium sp. Cara lain yang bisa kita gunakan untuk mengendalikan hama walang sangit ini adalah menggunakan perangkap bau yang menyengat di pojok-pojok pematang, setelah hama walang sangit berkumpul baru kita aplikasi insektisida.

Pesan dari Maspary: Jangan kuatir tentang hama walang sangit, hama ini sangat mudah dikendalikan. Oleh karena itu jangan gunakan insektisida piretroid sintetik untuk mengendalikan hama walang sangit ini karena akan memicu ledakan hama wereng. Walang sangit yang menyerang diluar fase pengisian bulir padi bukanlah hama dan belum perlu dikendalikan.

Semoga tulisan Gerbang Pertanian tentang cara mengendalikan hama walang sangit ini bisa menjawab dari berbagai pertanyaan melalui SMS pada kami dan bisa  berguna bagi pembaca semua. Kritik, saran, masukan dan pertanyaan silahkan tulis pada kolom komentar dibawah ini (Maspary)

Senin, 18 April 2011

CARA MENGENDALIKAN HAMA ULAT BULU

mengendalikan-hama-ulat-bulu Salam Pertanian!! Salam hangat buat rekan-rekan Gerbang Pertanian yang berlokasi di daerah Bojonegoro, Jombang, Jakarta dan semua saja yang sedang terusik oleh kehadiran hama ulat bulu. Gerbang Pertanian kali ini akan sedikit membahas tentang bagaimana cara mengendalikan hama ulat bulu. Hama yang satu ini memang memerlukan perlakuan khusus dalam pengendaliannya. Tidak seperti ulat pada umumnya yang menyerang tanaman pertanian kita. Kalau kita amati bukankah jarang tanaman kita yang terserang ulat bulu?

Kalau menurut saya ledakan hama ulat bulu ini cenderung oleh faktor iklim yang mendukung perkembangan hama tersebut. Atau mungkin juga ledakan hama ulat bulu disebabkan oleh migrasi hama dari areal perkebunan atau hutan.  Peran predator atupun mungsuh alami juga ikut menentukan perkembang jumlah hama ulat bulu tersebut.

Ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan hama ulat bulu:

  1. Jagalah kebersihan atau sanitasi lingkungan. Mulailah dari membersihkan lantai, dinding dan bagian dalam atap rumah kita. Kalau perlu kita cat ulang dinding rumah kita. Bersihkan pekarangan kita dari sampah dan kotoran lain.
  2. Lakukan monitoring dan selalu bersikap waspada terhadap kedatangan hama ulat bulu ini. Sering-seringlah mengamati dalam rumah kita, pagar kita, pekarangan kita,  pohon-pohon disekitar rumah kita  agar kita lebih cepat dan lebih mudah dalam mengendalikan hama ulat bulu tersebut. Dengan monitoring dan tindakan pengendalian yang cepat hama ulat bulu tersebut akan lebih mudah dikendalikan dan tidak akan menyebar populasinya.
  3. Sebelum terserang hama ulat bulu bersihkan kulit kering yang menempel batang-batang pohon   dan cat dengan air kapur (labur). Tempat tersebutlah biasanya akan digunakan sebagai tempat persembunyian dan tempat bertelur ulat bulu.
  4. Cara lain untuk mengendalian hama ulat bulu dilakuka dengan aplikasi insektisida pada pohon yang sekiranya akan menjadi inang hama ulat bulu ini (cara ini dilakukan jika sudah ada gejala serangan).  Jangan lakukan dengan cara penyemprotan, selain susah juga membahayakan badan kita. Lakukan dengan cara melobangi batang pohon dengan bor dan isi lobang tersebut dengan cairan insektisida seperti Fipronil, Asefat dan Profenopos. Untuk lebih jelas cara ini silahkan baca artikel yang berjudul Cara aplikasi pestisida pada tanaman tahunan.
  5. Jika sudah ada serangan dan pohon disekitar kita memungkinkan untuk kita semprot, lakukan pengendalian hama ulat bulu dengan cara penyemprotan dengan menggunakan insektisida selektif yang bekerja sebagai racun perut atau racun pernafasan. Kalau boleh menyarankan gunakan insektisida berbahan aktif Bacillus thuringiensis sebagai contoh Dipel, Xentari dan Turex.
  6. Jika sudah terlanjur tersebar kemana-mana (dalam rumah, dinding rumah, pagar, batang pohon dll) lakukan pengendalian ulat bulu dengan cara pembakaran dengan api kecil. Boleh dengan obor atau daun klapa kering yang diikat lalu dibakar pucuknya, pakailah pegangan bambu yang panjang. Dengan cara dibakar bulu dari hama ulat bulu tidak akan beterbangan kemana-mana sehingga tidak akan menimbulkan gatal-gatal pada kulit kita. Jika pembersihan hama ulat bulu dengan disapu biasanya bulunya akan rontok dan jika kena angin bisa menempel dikulit yang menimbulkan gatal-gatal.
  7. Bersihkan sisa-sia hama ulat bulu yang belum terbakar dengan menyemprot menggunakan jamur Metarizium sp (jamur parasit pada ulat). Pengendalian hama ulat bulu dengan jamur Metarizium sp akan lebih efektif karena jamur tersebut akan berkembang biak dan menyebar dalam memarasit jika ulat yang sakit bersinggungan dengan ulat sehat.

Demikian artikel tentang cara pengendalian hama ulat bulu semoga bisa bermanfaat bagi kita semua dan membuat kita lebih waspada terhadap kedatangan hama ulat bulu tersebut.

Sabtu, 26 Maret 2011

CORYNEBACTERIUM PADI SEHAT BEBAS KRESEK



Salam pertanian!! Serangan penyakit kresek, hawar daun bakteri (BLB) pada tanaman padi telah meresahkan para petani kita. Sepertinya sekarang ini kresek telah menjadi penyakit utama pada tanaman padi. Kerugian yang ditimbulkan oleh serangan kresek tidak main-main, bisa mencapai 75 %.

Belum pahamnya petani tentang penyakit kresek ini menjadi kendala untuk mengendalikannya. Berbagai cara pengendalian secara kimia dilakukan petani namun banyak yang belum mendapatkan hasil yang maksimal. Padahal ada cara organik yang sangat efektif untuk mengendalikan penyakit kresek ini (keefektifannya bisa mencapai 80%).

Salah satu pengendali kresek yang telah teruji dalam berbagi demplot kita di daerah Banyumas adalah dengan menggunakan agensi hayati Coryne bacterium sp. Selain harganya sangat murah Coryne bacterium sp juga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.

Coryne bacterium sp. yang merupakan salah satu agens hayati bersifat antagonis dapat mengendalikan beberapa jenis penyakit tanaman. Yang paling utama Coryne bacterium sp. dapat mengendalikan penyakit kresek pada tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae.

Adapun penyakit tanaman lain yang dapat dikendalikan oleh agens antagonis Coryne bacterium sp adalah penyakit bercak daun pada jagung, penyakit bengkak akar pada kubis, dan penyakit bakteri layu pisang

Bakteri ini berbentuk batang, jenis gram positif. Koloninya berwarna putih kotor, dan di bawah lampu ultra violet tidak bereaksi. Kemampuan bakteri ini dalam menekan penyakit Kresek (BLB) mencapai 80 persen.

Sasaran bakteri Coryne bacterium sp.

Bakteri ini efektif untuk mengendalikan penyakit Kresek (BLB) yang disebabkan oleh Xanthomonas campestris pv oryzae, Hawar Daun Jingga (BRS) yang disebabkan oleh Pseudomonas sp pada tanaman padi, bercak daun Helminthosporium sp dan Cercospora sp pada tanaman jagung, penyakit akar gada (Plasmodiophora brassicae) pada tanaman kubis, serta penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum) pada tanaman pisang.

Untuk cara penggunaan Coryne bacterium sp. dapat anda download di sini.

Gerbang Pertanian juga menyediakan Coryne bacterium sp yang siap aplikasi dengan harga Rp.12500/ botol 600 ml.

Untuk pembelian Coryne Bacterium silahkan Klik disini atau pada menu order.

Sabtu, 26 Februari 2011

TRICHODERMA SP SEBAGAI PUPUK BIOLOGIS DAN BIOFUNGISIDA

trichoderma sp Salam Pertanian!! Ketergantungan kita terhadap bahan-bahan kimia (pupuk kimia) apalagi bahan yang bersifat sebagai racun (insektisida, fungisida dan bakterisida) harus segera kita tinggalkan. Kita harus menggali bahan-bahan disekitar kita yang bisa kita manfaatkan untuk mengganti bahan-bahan kimia tersebut. Sudah saatnya kita kembali ke alam. Banyak mikroorganisme yang dapat kita manfaatkan untuk proses kelestarian lingkungan kita.

Salah satu mikroorganisme fungsional yang dikenal luas sebagai pupuk biologis tanah dan biofungisida adalah jamur Trichoderma sp. Mikroorganisme ini adalah jamur penghuni tanah yang dapat diisolasi dari perakaran tanaman lapangan. Spesies Trichoderma disamping sebagai organisme pengurai, dapat pula berfungsi sebagai agen hayati dan stimulator pertumbuhan tanaman. Beberapa spesies Trichoderma telah dilaporkan sebagai agensia hayati seperti T. Harzianum, T. Viridae, dan T. Konigii yang berspektrum luas pada berbagai tanaman pertanian. Biakan jamur Trichoderma dalam media aplikatif seperti dedak dapat diberikan ke areal pertanaman dan berlaku sebagai biodekomposer, mendekomposisi limbah organik (rontokan dedaunan dan ranting tua) menjadi kompos yang bermutu. Serta dapat berlaku sebagai biofungisida. Trichoderma sp dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur penyebab penyakit pada tanaman antara lain Rigidiforus lignosus, Fusarium oxysporum, Rizoctonia solani, Sclerotium rolfsii, dll.

Sifat antagonis Trichoderma meliputi tiga tipe :

  1. Trichoderma menghasilkan sejumlah enzim ekstraseluler beta (1,3) glukonase dan kitinase yang dapat melarutkan dinding sel patogen
  2. Beberapa anggota trichoderma sp menghasilkan toksin trichodermin. Toksin tersebut dapat menyerang dan menghancurkan propagul yang berisi spora-spora patogen disekitarnya
  3. Jenis Trichoderma viridae menghasilkan antibiotik gliotoksin dan viridin yang dapat melindungi bibit tanaman dari serangan penyakit rebah kecambah

Pupuk biologis dan biofungisida Trichoderma sp dapat dibuat dengan inokulasi biakan murni pada media aplikatif, misalnya dedak. Sedangkan biakan murni dapat dibuat melalui isolasi dari perakaran tanaman, serta dapat diperbanyak dan diremajakan kembali pada media PDA (Potato Dextrose Agar). Isolasi banyak dilakukan oleh kalangan peneliti maupun produsen pupuk, tetapi masih terlalu merepotkan untuk diadopsi oleh petani. Sebagai petani, untuk lebih efisiennya dapat memproduksi pupuk biologis yang siap aplikasi saja, sehingga hanya perlu membeli dan memperbanyak sendiri biakan murninya dan diinokulasikan pada media aplikatif. Atau jika menginginkan kepraktisan dapat membeli pupuk yang siap tebar untuk setiap kali aplikasi.

Dari beberapa literatur yang pernah saya baca dengan penambahan pupuk biologis Trichoderma sp akan meningkatkan efisiensi pemupupukan. Pada tanah yang tandus pemberian pupuk organik Trichoderma sp dan pupuk kimia secara bersamaan akan memberikan hasil yang maksimal daripada pemberian pupuk organik atau pupuk kimia secara terpisah walaupun dengan jumlah yang banyak. Dengan pemberian pupuk organik akan menghemat penggunaan pupuk kimia.

Seringkali penyakit layu dan busuk pangkal batang pada tanaman disebabkan oleh jamur fusarium dan sulit dikendalikan dengan fungisida kimia. Oleh karena itu tidak ada salahnya kita mencoba mengaplikasikan pupuk biologis dan biofungisida Trichoderma sp pada tanaman kita untuk mencegah penyakit akar dan busuk pangkal batang yang dapat menyebabkan layu tanaman.

-maspary-

Selasa, 22 Februari 2011

MEMBUAT INSEKTISIDA ORGANIK UNTUK WERENG DAN PENGGEREK BATANG

pestisida organik untuk werengKita telah tahu bagaimana akibat yang ditimbulkan oleh hama wereng dan penggerek batang. Jika kita tidak waspada dan tanggap situasi dan terlambat dalam pengendalian wereng dan penggerek batang maka tidak mustahil kita akan kehilangan hasil panen kita 100 %.

Dalam pengendalian kedua hama tersebut tidaklah harus selalu menggunakan insektisida kimia. Ada sebuah alternative yang patut dicoba untuk mengendalikan kedua hama ini secara organic.

Alasan kenapa kita selalu dianjurkan menggunakan bahan organic adalah karena bahan tersebut bisa didapat tanpa membeli, bisa dibuat sendiri dan harganya biasanya relative lebih murah.

Bahan:

  1. 20 liter air
  2. bratawali 2 kg (boleh daun atau batangnya),
  3. lengkuas/laos 2 kg,
  4. kluwak muda 15 biji dan
  5. 5 daun lidah buaya untuk perekat.

Cara Pembuatan :

  1. Semua bahan ditumbuk dan disimpan (difermentasi) pada wadah tertutup selama 3 hari
  2. Kemudian disaring
  3. Aplikasi/penggunaan pada saat penyemprotan yaitu 2 gelas aqua (250 ml) untuk satu tangki (10 liter)

Kalo kita lihat ada kandungan apa dari bahan-bahan yang digunakan tersebut diatas:

  1. Brotowali mengandung : Pikoretine; Alkaloida; Berberin; Columbin
  2. Rasa pahit pada kluwak disebabkan kandungan hydrocyanic acid
  3. Lengkuas/laos mengandung minyak terbang, minyak atsiri, eugenol, seskuiterpen, pinen, metil sinamat, kaemferida, galangan, galangol dan kristal kuning.
  4. Dan kandungan gel lidah buaya adalah air (98,5%), karbohidrat (0,3%), asam amino, lipid, sterol, tanin, dan beberapa enzim.
    Jadi jangan terlalu khawatir dengan wereng dan Selamat mencoba.

Sumber:

BBPP Ketindan; Jl. Ketindan No. 1 - Malang
0341-426235.

Sabtu, 19 Februari 2011

MENGENDALIKAN HAMA PENGOROK DAUN/ HAMA OREK-OREK/ HAMA GERANDONG (Liriomyza sp)

HAMA PENGOROK DAUN Salam Pertanian! Semenjak tahun 2000 an hama pengorok daun (Liriomyza sp) menjadi sangat terkenal. Hama yang tadinya tidak pernah menjadi perhatian para petani tiba-tiba menjadi hama yang sangat membahayakan bagi tanaman. Dalam waktu hitungan kurang dari 5 hari jika hama pengorok daun ini menyerang bisa menyebabkan gagal panen.

Bukan hanya satu tanaman, hama ini mampu hidup dan menyerang beberapa jenis tanaman diantaranya adalah kentang, bawang merah, kacang panjang, timun, melon, semangka, pare dan gambas. Di tanaman kentang hama ini sudah bukan hama yang asing lagi para petani menyebut dengan hama orek-orek. Jika dimusim kemarau tiba petani sangatlah cemas jika terserang hama ini karena bisa mengakibatkan kegagalan. Demikian juga pada tanaman bawang merah hama pengorok daun yang disebabkan oleh lalat Liriomyza sp ini juga menjadi momok bagi petani. Mereka menyebut dengan hama gerandong.

Gejala awal dari serangan hama pengorok daun adalah adanya bintik berwarna putih pada daun. Setelah beberapa hari dimulai dari bintik putih tadi akan terbentuk garis putih yang berkelok-kelok pada daun. Semakin hari garis-garis tersebut semakin banyak dan semakin panjang sehingga warna daun menjadi keputih-putihan dan akhirnya daun mengering dan mati.

Hama pengorok daun/ hama orek-orek/ hama gerandong disebabkan oleh lalat Liriomyza sp. Setelah lalat dewasa meletakkan telur pada daun dengan cara menusukkan ovipositornya, telur tersebut akan menetas dalam 3-5 hari. Telur menetas menjadi larva dan langsung mengorok bagian mesofil (bagian dalam) daun. Larva terus memakan mesovil daun sambil berjalan maju sehingga meninggalkan bekas gerekan berupa garis-garis yang berkelok-kelok pada daun tanaman. 7-12 hari larva akan menetas setelah mengalami 3 kali instar dan akan berubah menjadi pupa. Dalam 3- 6 hari pupa (kepongpong) akan menjadi lalat dewasa. Kalau kita lihat dari siklus hidup lalat pengorok daun dapat kita ketahui bahwa hanya vase larvalah yang menjadi hama pada tanaman.

Untuk mengendalikan hama ini tidaklah semudah mengendalikan hama ulat atau hama lembing tanaman. Hama pengorok daun sangat sulit dikendalikan dengan insektisida biasa. Jika menggunakan insektisida golongan piretroid sintetik hanya imago lalat saja yang mati. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara mengendalikan larva dari liriomyza sp ini. Menurut pengalaman penulis larva dari lalat liriomyza sp ini mampu dikendalikan oleh insektisida berbahan aktif abamektin. Contoh insektisida berbahan aktif abamektin adalah agrimex, Mektin, kilirin dll. Selain itu larva ini juga bisa dikendalikan oleh insektisida triggad produksi PT sygenta yang bahan aktifnya penulis lupa.

Selain kedua insektisida tersebut penulis belum mengetahuinya. Untuk mengendaliaknnya secara organikpun penulis juga belum punya pengalaman. Untuk menguatkan tanaman dari serangan hama pengorok daun ini para petani juga bisa mencoba meningkatkan penggunaan unsur hara K dan mengurangi penggunaan unsur N. Jika rekan-rekan pembaca mengetahui insektisida yang lain baik organik maupun kimia yang efektif untuk mengendalikan hama pengorok daun/ hama orek-orek/ hama gerandong silahkan berbagi pengalaman dengan kami.pada kolom komentar dibawah ini.

-maspary-

Selasa, 15 Februari 2011

MENGENDALIKAN PENYAKIT TEKLIK/ PATAH BATANG PADA TANAMAN CABE (Choanephora cucurbitarum)

cabai Salam Pertanian! Rekan-rekan Gerbang Pertanian semua, harga cabe beberapa bulan terakhir sangatlah fenomenal selalu diatas Rp20.000/ Kg. Salah satu penyebab hal ini adalah adanya hama dan penyakit tanaman cabe yang begitu komplek dan sangat susah untuk dikendalikan. Kendala hama dan penyakit inilah yang sering membuat kegagalan panen para petani cabe kita. Penyakit tanaman cabe yang mendominasi saat ini adalah layu bakteri, Layu fusarium, Anthraknosa (Patek), rebah kecambah, teklik (patah batang) dll.

Pada kesempatan kali ini maspary akan membahas tentang penyakit teklik/ patah batang pada tanaman cabe. Penyakit ini telah mengganas didaerah banyumas dan sekitarnya dan sering mematikan tanaman cabe milik petani. Petani sendiri sering merasa bingung dan belum tahu persis apa sebenarnya penyakit teklik tersebut.

Gejala utama penyakit teklik/ patah batang pada tanaman cabe adalah busuknya bunga, tangkai bunga, cabang dan ranting tanaman. Penyakit ini biasanya menyerang pada pucuk tanaman (tanaman muda) kemudian menjalar pada bagian tanaman yang lebih tua. Jika pucuk tanaman terserang akan berwarna coklat kehitaman dan membusuk kadangkala terlihat adanya spora berwarna kelabu kehitaman.

Penyakit teklik/ patah batang pada tanaman cabe disebabkan oleh jamur Choanephora cucurbitarum. Jamur ini akan mudah tersebar oleh angin pada cuaca yang lembab dan ada angin. Penyakit ini juga mudah menular melalui singgungan antara daun/ cabang yang terserang dan daun yang sehat.

Untuk mengendaliakan penyakit ini sebenarnya hampir sama dengan pengenalian penyakit cabe yang lain, diantaranya adalah:

  1. Jaga jarak tanam, jangan terlalu rapat sehingga kelembaban bisa dikurangi
  2. Kurangi penggunaan pupuk urea sehingga tanaman lebih tahan penyakit
  3. Kebersihan lingkungan harus selalu dijaga
  4. Jika tanaman sudah terserang pangkas pucuk tanaman yang terserang kemudian bakar
  5. Gunakan fungisida dengan cara kerja kontak seperti Dithane, Antracol, Dakonil, Kocide untuk mencegahnya. Dan gunakan yang bekerja secara sistemik seperti Derosal, Bion M, Anvil dan Benlate untuk mengobatinya.

Demikian sekelumit tulisan tentang penyakit teklik/ patah batang pada tanaman cabe yang disebabkan oleh jamur Choanephora cucurbitarum. Jika ada kritik, saran dan penambahan informasi silahkan tulis pada kolom komentar dibawah ini.

-Maspary-

Sabtu, 12 Februari 2011

PENYAKIT BUSUK AKAR PADA TANAMAN PADI (Erwinia chrysanthemi) dan (Helminthosporium sigmoideum)

Seperti janji saya kemarin, Untuk mengakhiri pembahasan kita tentang penyakit-penyakit tanaman padi dihari yang ke 14 ini kita akan membahas tentang penyakit busuk akar pada tanaman padi. Setelah kemarin kita telah membahas tentang penyakit bergaris pada tanaman padi.

Rekan-rekan gerbang pertanian semua, selain daun ternyata akar tanaman padi juga dapat terserang oleh penyakit. Salah satu penyakit tanaman padi yang menyerang akar adalah penyakit busuk akar pada tanaman padi. Penyakit busuk akar pada tanaman padi dapat disebakan oleh dua jenis mikroorganisme yaitu Erwinia chrysntemi dan Helminthosporium sigmoideum. Adapun perbedaan gejala dari kedua penyakit ini adalah:

Penyakit busuk akar yang disebabkan oleh bakteri Erwinia chrysntemi

Penyakit busuk akar pada tanaman padi mempunyai gejala utama berupa daun menguning dan coklat gelap pada anakan yang rusak. Infeksi dapat dimulai saat tanaman masih muda. Sebagai fase awal gejala yang timbul berupa busuknya pelepah daun dan berubah menjadi coklat. Bercak cepat menyebar kebawah pada buku-buku dan batang. Tangkai menjadi lunak dan busuk mengeluarkan bau yang tidak enak.

Pada gejala lanjut banyak tanaman padi yang rusak sehingga seluruh tanaman rebah dan mudah dicabut. Busuk akar biasanya ditemukan sejak fase anakan maksimum sampai fase produksi, tetapi pada lahan sawah yang terserang banjir/ selalu tergenang kerusakan dapat terjadi dimulai sejak tanaman lebih muda.

Penyakit busuk akar yang disebabkan oleh jamur Helminthosporium sigmoideum.

Serangan jamur Helminthosporium sigmoideum dimulai dari adanya infeksi yang terjadi pada dekat permukaan air, masuk melalui pembengkakan dan kerusakan. Gejala awal adalah adanya bercak kehitam hitaman, gelap, bentuknya tidak teratur pada sisi luar pelepah daun dan secara bertahap membesar. Akhirnya jamur menembus melalui batang padi dan melemahkan batang padi dan menyebabkan menjadi rebah.

Seperti pada tanaman lain penyakit akar tanaman padi juga sulit diobati. Yang bisa kita lakukan adalah mencegahnya dengan berbagai cara, diantaranya:

  1. Jangan terlalu berlebihan dalam menggunakan unsur Nitrogen (Urea)
  2. Atur jarak tanam agar tanama padi tidak terlalu lembab pangkal batangnya
  3. Penambahan unsur Kalium untuk menguatkan batang.
  4. Perbaiki drainase sehingga tanaman tidak selalu tergenang.
  5. Menanam varietas padi yang tahan rebah (mempunyai bentuk tanaman padi yang tidak terlalu tinggi)

Demikian pembahasan tentang penyakit busuk akar pada tanaman padi yang sekaligus mengakhiri postingan tentang penyakit-penyakit penting pada tanaman padi yang dimulai dari penyakit blas/ bercak belah ketupat pada tanaman padi. Sebenarnya masih ada penyakit-penyakit tanaman padi yang belum dibahas di gerbang pertanian ini diantaranya adalah penyakit yang timbul karena kekurangan atau kelebihan unsur hara dan insya Alloh akan kami bahas dilain waktu.

Kritik saran dan pertanyaan silahkan melalui kolom komentar dibawah ini. Semoga artikel yang simpel ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

-maspary-

Jumat, 11 Februari 2011

PENYAKIT BERGARIS PADA TANAMAN PADI (Pseudomonas setariae)

Pada hari ke 12 kemarin kita telah membahas tentang penyakit daun terbakar/ leaf scald pada tanaman padi, dan sekarang di hari yang 13 ini kita akan sedikit membahas tentang penyakit bergaris pada tanaman padi.

Gejala awal yang ditunjukkan oleh penyakit bergaris pada tanaman padi adalah adanya garis-garis membujur berwarna hijau gelap dekat pangkal pelepah daun dari bibit tanaman. Pada kondisi lembab bercak-bercak memanjang dan menyebar sepanjang pelepah dan pada helaian daun. Kemudian warna akan berubah menjadi coklat gelap. Bercak biasanya mempunyai panjang 3-10 cm dan lebar 0,5-1 mm. Tetapi bercak tersebut kadang-kadang menyatu membentuk garis-garis yang lebih lebar. Jika infeksi ringan bibit tetap bisa tumbuh namun akan tetap rusak dan jika infeksi berat menyerang akan menyebabkan bibit mati dan tanaman menjadi kerdil.

Gejala infeksi pada tanaman muda ditunjukkan oleh daun yang kaku tidak mau melipat dan dinamakan busuk pucuk. Jika hal tersebut terjadi dapat menyebabkan kematian pada tanaman. Umumnya infeksi terjadi pada tanaman tua namun juga bisa terjadi pada tanaman singgang.

Penyakit bergaris pada tanaman padi disebabkan oleh bakteri Preudomonas setariae.

Untuk mengendalikan penyakit bergaris ini dapat dilakukan dengan beberap cara:

  1. Menggunakan jarak tanam yang tidak terlalu rapat kalau perlu dengan dikombinasi dengan sistem jajar legowo
  2. Perlakuan bibit yang manusiawi, tidak perlu dirompes dan dipotong akarnya
  3. Penggunaan unsur Urea atau N yang tidak berlebih dan menambang unsur K.
  4. Dengan bakterisida seperti agrept dan bakstosin.

Rekan-rekan gerbang pertanian semua, demikian sedikit pembahasan tentang penyakit bergaris pada tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Preudomonas setariae. Semoga bisa memberikan manfaat untuk kita semua.

Untuk pertemuan yang akan datang dihari yang ke 14 kita akan membahas tentang penyakit busuk akar pada tanaman padi. Jangan lewatkan ya��.

-maspary-

Kamis, 10 Februari 2011

PENYAKIT DAUN TERBAKAR/ LEAF SCALD PADA TANAMAN PADI (Rhynchosporium oryzae)

Salam pertanian!! Pada hari ke 11 kemarin kita telah membahas tentang penyakit tungro pada tanaman padi, seperti yang saya janjikan kemarin kali ini hari yang ke 12 kita akan sedikit menguraikan tentang penyakit daun terbakar (leaf scald) pada tanaman padi.

Gejala dari penyakit daun terbakar atau Leaf Scald biasanya terjadi pada ujung daun tua . Namun dapat pula terjadi pada sepanjang pinggir dan bagian lain dari helaian daun. Bercak berbentuk bulat memanjang seperti berlian kadang seperti bercak-bercak yang basah dengan panjang 1-5 cm, lebar 0,5 cm.

Bercak berkembang sampai bentuk ellip yang besar dan bulat memanjang yang dilingkari oleh pita sempit yang gelap dan lingkaran coklat terang. Daun yang terinfeksi berat biasanya mengering dan berubah warna menjadi putih jerami dengan warna coklat dibagian tepinya dengan pendaerahan yang memudar.

Bercak bisa berkembang menutupi helaian daun. Untuk mengidentifikasi penyakit daun terbakar bisa dilakukan dengan mencelupkan potongan daun terinfeksi kedalam air yang jernih selama 5-10 menit. Jika keluar bahan seperti susu atau seperti asap timbul berarti penyakit hawar daun bakteri dan jika tidak keluar mareti seperti asap/ susu berarti penyakit daun terbakar.

Penyakit daun terbakar pada tanaman padi disebabkan oleh jamur Rhynchosporium oryzae.

Untuk mengendalikan penyakit daun terbakar pada tanaman padi dapat dilakukan dengan dengan beberapa cara:

  1. Kurangi penggunaan urea dan tambahkan unsur K
  2. Tambah jarak tanamnya dan gunakan sisten tanam jajar legowo
  3. Bisa menggunakan fungisida kontak sebagai pencegahnya seperti Antracol, Dhitane, Vondozeb, Kocide dll. Namun hal tersebut merupakan alternatif terakhir dari berbagai macam pengendalian penyakit padi. Jangan gunakan jika belum ada gejala yang timbul.

Demikian tulisan tentang penyakit daun terbakar (leaf scald) pada tanaman padi semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Untuk hari ke 13 besok kita berencana akan membahas tentang penyakit bergaris pada tanaman padi. Jangan lewatkan ya�..

Oke, ingin memberi masukan pada tulisan gerbang pertanian? silahkan tulis komentar anda pada kolom komentar dibawah ini.

-maspary-

Rabu, 09 Februari 2011

PENYAKIT TUNGRO PADA TANAMAN PADI ( Virus Tungro)

Salam pertanian!! Setelah kita membahas tentang penyakit kerdil hampa pada tanaman padi kini dihari yang ke 11 kita akan membahas tentang penyakit Tungro pada tanaman padi. Kedua penyakit tersebut mempunyai gejala yang sangat mirip, maka untuk mengidentifikasikannya perlu dilakukan pengamatan yang seksama.

Gejala penyakit tungro adalah berkurangnya jumlah anakan dan pertumbuhan yang kerdil. Helaian daun dan pelepah daun memendek. Helaian daun muda yang tidak menggulung dijepit oleh pelepah daun dan daun-daunnya terpuntir atau menggulung sedikit. Warna daun berubah menjadi kuning kemerah-merahan atau oranye mulai dari ujung daun-daun yang tua. Daun muda mungkin menjadi belang atau bergaris-garis hijau pucat. Malai tanaman yang terinfeksi biasanya kecil dan keluar tidak sempurna. Bulir-bulirnya tertutup bercak coklat dan beratnya kurang dibanding bulir normal.

Tanaman padi yang terinfeksi biasanya hidup hingga fase pemasakan. Pembungaan yang terlambat bisa menyebabkan tertundanya panen. Malai seringkali kecil, steril dan keberadaanya tidak sempurna. Tanaman tua yang terinfeksi bisa tidak menimbulkan gejala serangan sebelum panen tetapi gejala akan terlihat saat singgang yang tumbuh setelah panen.

Semakin muda umur tanaman yang terserag dan semakin rentang varietas padi maka semakin berat infeksi penyakit virus tungro ini. Tungro adalah penyakit virus padi yang paling penting di Asia Tropika. Serangannya dapat merusak pertanaman yang sangat luas dalam waktu yang singkat.

Penyakit tungro pada tanaman padi disebabkan oleh virus tungro. Penyakit ini ditularkan oleh hama wereng daun terutama wereng hijau (Nephotettix virescens) dan wereng zigzag.

Sebenarnya untuk mengendalikan penyakit ini cukup sulit karena serangannya yang cepat dan menyebar. Namun ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengendalikannya:

  1. Cabut dan musnahkan tanaman yang terinfeksi agar tidak menular ketanaman yang sehat.
  2. Rotasi dengan tanaman palawija dapat memutus siklus hidup wereng daun.
  3. Kendalikan serangan wereng dengan cara tepat dan pergunakan insektisida yang terbaik untuk mengendalikan wereng .

Demikaian sedikit postingan tentang penyakit tungro pada tanaman padi semoga bisa bermanfaat bagi pembaca semua. Untuk hari ke 12 besok kita akan membahas tentang penyakit daun terbakar pada tanaman padi.

Jika ada komentar, kritik, saran ataupun penambahan informasi yang sifatnya membangun silahkan masukkan pada kolom komentar dibawah ini.

-maspary-

Minggu, 06 Februari 2011

PENYAKIT KERDIL HAMPA PADA TANAMAN PADI (Virus Kerdil Hampa)

Tak terasa kita telah sepuluh hari membahas tentang penyakit-penyakit tanaman padi, seperti kuliah saja ya ? Tapi gak apalah kan gratissss tinggal baca doang. Rencananya beberapa hari kedepan maspary akan tetap terus membahas tentang penyakit-penyakit tanaman padi.

Bagi yang belum membaca edisi yang lalu hari ke -9 kita membahas tentang penyakit kerdil rumput pada tanaman padi. Sedangkan pada hari ke �10 ini sesuai dengan judulnya kita akan mencoba membahas tentang penyakit kerdil hampa pada tanaman padi. Memang kedua penyakit diatas sangatlah mirip seperti namanya. Oleh karena itu harus diperhatikan benar perbedaannya agar kita tidak keliru dalam mengidentifikasikannya.

Gejala utama penyakit kerdil hampa adalah saat awal pertumbuhan daun tanaman padi menjadi kasar/ bergerigi dan tidak teratur. Bagian tanaman yang kasar biasanya menguning, kecoklatan, rusak atau terpilin. Gejala pada tanaman dewasa adalah daun benderanya pendek, terpilin, salah bentuk atau kasar tak beraturan. Biasanya bulir padi pada tanaman yang terserang sedikit yang terisi. Tanaman padi sehat dan yang sakit mempunyai pertumbuhan yang sama pada awalnya namun pada saat fase generatif tanaman yang sakit akan tetap hijau dan mempunyai lebih banyak anakan daripada tanaman yang sehat. Sejalan dengan pertumbuhan tanaman maka makin lebih sedikit daun-daun bergerigi dan seringkali daun terpelintir pada pangkal helaian daun.

Melintirnya tulang daun akibat pertumbuhan keluar sel ploem pada helaian dan pelepah daun, khusunya pada sambungan antara helaian dan pelepah daun. Pembuluh daun yang berwarna kuning pucat atau putih sampai coklat gelap membengkak dengan panjang 1 mm sampai lebih 10 cm dan lebar 0,2-1 mm dan menonjol kepermukaan setinggi 0,1-1 mm. Selama fase akhir pertumbuhan gejalanya adalah pendek dan terpuntir, salah bentuk, atau daun benderanya bergerigi. Tanaman sakit sering berbunga terlambat dan malai muncul tidak sempurna. Tanaman sakit memiliki lebih banyak malai dan anakan bulir daripada tanaman yang sehat tetapi bulir yang terisi sedikit sekali.

Penyakit ini disebabkan oleh virus kerdil hampa yang penyebarannya ditularkan oleh hama wereng coklat (Nilaparvata lugens)

Untuk mengendalikan penyakit ini memang agak susah karena jika gejala sudah terlihat biasanya penyakit sudah terlanjur menyerang ke pertanaman. Satu-satunya jalan untuk mengendalikan penyakit ini adalah mencabut tanaman yang terserang dan memusnahkannya dengan dibakar. Cara pencegahan yang utama adalah mengendalikan serangga penularnya yaitu wereng coklat. Silahkan baca cara pengendalian hama wereng coklat dan insektisida terbaik untuk mengendalikan hama wereng coklat hanya di Gerbang Pertanian.

Sampai disini dulu pembahasan kita tentang penyakit kerdil hampa pada tanaman padi kita, harapan maspary semoga semua yang kami tulis bisa menyumbangkan sedikit wawasan dan ilmu bagi para petani di indonesia. kritik, saran, tanggapan dan info-info penting sangat kami harapkan demi pembangunan pertanian kita.

Rencananya untuk hari ke �11 besok Gerbang Pertanian akan memmilih topik penyakit tungro pada tanaman padi. Untuk mengetahui apa itu penyakit tungro dan bagaimana cara mengendalikannya silahkan tunggu tanggal terbitnya. Tetap bersama Gerbang Pertanian.

-maspary-

Jumat, 04 Februari 2011

PENYAKIT KERDIL RUMPUT PADA TANAMAN PADI (Virus Kerdil Rumput)

Kita telah sampai hari ke �9 dalam topik penyakit-penyakit tanaman padi versi Gerbang Pertanian, Kali ini seperti yang telah saya janjikan kemarin saya akan membahas penyakit kerdil rumput yang disebabkan oleh virus kerdil rumput. Walaupun penyakit ini jarang terjadi tetapi kita selaku petani ataupun penyuluh wajib mengetahuinya.

Jika belum membaca artikel Gerbang Pertanian yang lalu, pada hari yang ke �8 kemarin maspary membahas tentang penyakit hangus palsu/ noda palsu pada tanaman padi.

Gejala utama penyakit kerdil rumput adalah tanaman yang terinfeksi sangat kerdil dan banyak anakannya sehingga menyerupai rumput. Daunnya sempit, pendek, kaku, hijau pucat dan kadang-kadang mempunyai bercak seperti karat. Kadangkala terdapat percabangan anakan dari buku batang tanaman padi yang terinfeksi. Tanaman yang terinfeksi biasanya bertahan sampai dewasa, tetapi hanya menghasilkan sedikit malai yang kecil berwarna coklat dan bulirnya hampa. Bila infeksi terjadi saat tanaman dewasa biasanya gejalanya tidak akan berkembang sebelum panen tetapi muncul pada singgangnya setelah panen.

Penyebab penyakit kerdil rumput adalah virus Kerdil Rumput. Virus ini disebarkan oleh hama wereng coklat (Nilaparvata lugens).

Untuk mengendalikan penyakit kerdil rumput cukup dengan mengendalikan vektor penularnya yaitu wereng coklat. Untuk mengendalikan wereng coklat Gerbang Pertanian telah menulis cara tepat mengendalikan hama wereng coklat dan insektisida terbaik untuk mengendalikan wereng coklat. Selain mengendalikan hama wereng coklat, jika penyakit kerdil rumput sudah terlihat gejalanya segera lakukan pemusnahan pada tanaman padi yang sudah terserang.

Demikian sedikit artikel tentang penyakit kerdil rumput pada tanaman padi, semoga bisa memberikan manfaat bagi kita semua. Kritik saran serta penambahan informasi sangat kami harapkan.

Dihari yang ke �10 besok kita akan mencoba membahas tentang penyakit kerdil hampa pada tanaman padi. Jangan lewatkan dan tetap bersama Gerbang Pertanian dengan artikel-artikel tentang hama penyakit, budidaya, penyuluhan dan lain-lain.

-maspary-

Rabu, 02 Februari 2011

PENYAKIT HANGUS PALSU/ NODA PALSU PADA TANAMAN PADI (Ustilaginoidea virens)

Pada kesempatan kali ini hari yang ke 8 Gerbang Pertanian kembali membahas tentang penyakit-penyakit pada tanaman padi. Seperti yang telah saya sampaikan hari kemarin kali ini maspary akan mencoba sedikit membahas tentang penyakit hangus palsu/ noda palsu pada tanaman padi. Walaupun penyakit ini sebenarnya tidak begitu penting dan jarang menyerang tetapi tidak ada jeleknya untuk kita ketahui. Siapa tahu dihari yang akan datang jika tanaman kita terserang penyakit ini jadi kita telah memahaminya.

Bagi pembaca yang belum sempat membaca artikel saya yang lalu silahkan baca karena kemarin maspary membahas tentang penyakit busuk leher pada tanaman padi.

Gejala yang ditunjukkan oleh penyakit hangus palsu/ noda palsu adalah bulir-bulir padi berubah menjadi gumpalan spora yang berukuran sampai 1 cm. Mula-mula gumpalan spora tersebut berwarna kuning sampai oranye, kemudian menjadi hijau gelap. Gejala terlihat nyata sewaktu bulir mulai masak. Chlamydospore tidak mudah dilepaskan dari bola smut karena adanya bahan yang lekat. Biasanya hanya terdapat untaian bulir pada malai yang terinfeksi.

Penyebab penyakit hangus palsu/ noda palsu pada tanaman padi adalah jamur Ustilaginoidea virens. Jamur ini akan merusak terutama pada kondisi yang lembab, banyak hujan, mendung pada masa pembungaan dan tanaman yang dipupuk nitrogen dengan dosis tinggi. Penularannya terjadi melalui udara.

Penyakit noda palsu/ hangus palsu biasanya sampai saat ini bukanlah penyakit yang penting karena luas dan intensitas serangannya yang rendah sehingga belum perlu dilakukan tindakan pengendalian. Namun jika ingin mencegahnya bisa dilakukan dengan pengurangan penggunaan urea dan penggunaan sistem tanam jajar legowo.

Demikian sedikit informasi tentang penyakit noda palsu/ hangus palsu yang disebabkan oleh jamur Ustilaginoidea virens. Semoga bisa bermanfaat dan menambah wawasan kita semua. Kritik, saran, sanggahan, serta penambahan informasi yang membangun tentunya sangat kami harapkan.

Untuk hari ke -9 besok kita akan membahas tentang penyakit kerdil rumput pada tanaman padi. Bagi pembaca yang tertarik untuk mengetahuinya silahkan tunggu tanggal tayangnya, dan tetap bersama Gerbang Pertanian.

-maspary-

Senin, 31 Januari 2011

PENYAKIT BUSUK LEHER PADA TANAMAN PADI (Pyricularia oryzae)

Seperti yang telah saya janjikan kemarin kali ini hari yang ke 7 kita akan membahas penyakit busuk leher pada tanaman padi yang disebabkan oleh Pyricularia oryzae . Jika pembaca Gerbang Pertanian belum membaca edisi hari kemarin (hari ke-6) tentang penyakit bercak pelepah pada tanaman padi silahkan baca dulu.

Menurut maspary penyakit ini juga penting karena tanaman padi yang terserang penyakit ini bisa tidak berproduksi sama sekali. Hal ini disebabkan terputusnya aliran makanan ke malai sehingga bulir menjadi hampa seperti terserang penggerek batang.

Penyakit busuk leher pada tanaman padi disebabkan oleh Pyricularia oryzae . Pyricularia oryzae selain menyebabkan penyakit blas/ bercak belah ketupat ternyata juga dapat menyebabkan tangkai malai membusuk dan patah, penyakit ini biasa kita sebut busuk leher. Jika infeksi terjadi sebelum pengisian bulir dapat menyebabkan kehampaan bulir padi. Tidak hanya daun dan malai batang juga dapat terinfeksi sehingga batang padi membusuk dan rebah.

Jamur ini berkembangbiak cepat pada tanaman padi yang berjarak tanam rapat sehingga mempunyai kelembaban yang tinggi. Kecepatan pertumbuhan jamur tersebut juga akan semakin tinggi jika pemupukan tanaman padi menggunakan urea secara berlebihan.

Penyebaran penyakit bisa melalui benih, angin sisa tanaman padi dilapangan dan inang lainnya terutaman tanaman dari golongan graminae/ rerumputan.

Pengendalian yang dianjurkan :

  1. Pemupukan yang seimbang dan penggunaan urea yang tidak berlebihan
  2. Jarak tanam jangan terlalu rapat sehingga tanaman tidak tinggi kelembaban rendah.
  3. Gunakan sistem tanam jajar legowo.
  4. Kebersihan lahan harus dijaga terutama dari sisa tanaman dan inang yang sakit
  5. Gunakan benih yang bebas penyakit
  6. Fungisida seperti Folicur, Opus, Score, Anvile, Nativo, indar dll biasanya sudah efektif mengendalikan penyakit ini.

Artikel singkat kali ini yang membahas tentang penyakit busuk leher pada tanaman padi yang disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae sangat maspary harapkan bisa memberi manfaat bagi kita semua. Kritik, saran, tanggapan serta tambahan informasi yang berguna bagi pembaca semua sangatlah penulis harapkan.

Pada hari ke � 8 besok maspary akan mencoba menulis tentang penyakit hangus palsu/ noda palsu pada tanaman padi. Ikuti terus dan tetap bersama Gerbang Pertanian untuk memperoleh tips-tips dan informasi seputar pertanian di indonesia.

-maspary-

Sabtu, 29 Januari 2011

PENYAKIT BERCAK PELEPAH DAUN/ BUSUK UPIH PADA TANAMAN PADI (Rhizoctonia solani)

Tak terasa kita telah memasuki hari ke-6 tentang penyakit-penyakit tanaman padi versi Gerbang pertanian. Pada hari ini kita akan membahas tentang penyakit bercak pelepah daun pada tanaman padi yang disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani dan Rhizoctonia oryzae.

Bagi rekan Gerbang Pertanian yang belum membaca artikel pada hari yang lalu silahkan baca dulu, karena pada hari kelima kemarin saya telah menulis tentang penyakit hawar daun bakteri yang sangat tenar pada akhir-akhir ini karena memang serangan penyakit ini sangat membahayakan tanaman padi kita.

Gejala dari penyakit bercak pelepah daun pada tanaman padi adalah adanya bercak yang terdapat pada seludang/ pelepah daun dan jika kondisi menguntungkan bagi perkembangan bakteri bercak bisa menyerang pada helaian daun. Gejala awal biasanya terbentuknya bercak pada pelepah yang berdekatan dengan air berbentuk lonjong berwarna kelabu kehijau-hijauan kemudian menjadi putih kelabu dengan pinggiran coklat. Ukuran bercak dapat mencapai panjang 2-3 cm. Batas tepi bercak dan variasi warna memberikan pola yang jelas pada bagian tanaman yang terinfeksi. Jika kondisinya lembab sekali pelepah tersebut dapat busuk sehingga penyakit disebut dengan busuk upih. Biasanya gumpalan benang jamur (miselium) dapat dijumpai pada pelepah yang terinfeksi. Gejala biasanya nyata selama masa pembungaan atau pada fase pemasakan. Infeksi berat dapat menyebabkan bulir tidak terisi dengan sempurna.

Penyakit bercak pelepah daun pada tanaman disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani dan Rhizoctonia oryzae. Jamur ini dapat bertahan dalam tanah dan sisa tanaman dalam bentuk benang-benang (miselium) atau gumpalan yang keras (sklerotia). Jamur ini dapat berkembang cepat pada kondisi yang lembab misalnya dibawah rumpun padi yang rapat. Kecepatan perkembangan penyakit juga akan bertambah ketika urea diberikan secara berlebihan. Sinar matahari dapat menekan infeksi yang disebabkan oleh jamur ini.

Untuk mengendalikan penyakit bercak pelepah/ busuk upih pada tanamna padi dapat dilakukan dengan:

  1. Jarak tanam jangan terlalu rapat terutama saat musim hujan
  2. Gunakan sistem legowo
  3. Jangan terlalu banyak memberikan urea
  4. Semprotkan fungisida ketika pembentukan anakan maksimm terjadi. Contoh: Score, folicur, anvil, indar, nativo, opus dll bisa juga fungisida kontak (belum terdaftar pada tanaman padi) dithane, anthracol, kocide, nordox, vondoseb dll.

Demikian uraian singkat tentang penyakit bercak pelepah pada tanaman padi yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani dan Rhizoctonia oryzae., semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Kritik, saran serta informasi tambahan sangat diharapkan oleh maspary.

Jangan lewatkan pertemuan dihari yang akan datang bersama Gerbang Pertanian. Untuk hari ke �7 besok maspary akan mencoba membahas tentang penyakit busuk leher pada tanaman padi.

-maspary-