Tampilkan postingan dengan label PESTISIDA ORGANIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PESTISIDA ORGANIK. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Juli 2011

TEHNIK KALIBRASI PESTISIDA

kalibrasi-pestisida Bagaimana kabar petani Indonesia? Semoga kesuksesan dan keberhasilan selalu menyertai anda semua. Kita jumpa lagi dengan Gerbang Pertanian dengan beberapa tips dan informasi tentang pertanian spesial untuk para petani Indonesia. Kali ini maspary ingin sedikit mengulas ilmu yang tidak begitu penting bagi para petani semua, tetapi artikel tentang tehnik kalibrasi pestisida ini mungkin penting untuk para mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah tentang aplikasi pestisida.

Kenapa saya bilang tidak penting? karena saya belum pernah melihat petani (dari jawa barat sampai jawa timur) yang menerapkan tehnik kalibrasi pestisida sebelum melakukan aplikasi pestisida pada lahannya. Bahkan banyak petani yang nggak tahu apa itu tehnik kalibrasi pestisida.

Tehnik kalibrasi pestisida dilakukan untuk mengkalibrasi/ mengestimasi atau memperkirakan kebutuhan larutan pestisida/ ZPT dan  pupuk daun yang diperlukan untuk diaplikasikan pada lahan kita. Jika kita mengetahui kebutuhan total air yang diperlukan untuk menyemprot (aplikasi) kita akan mudah menentukan konsentrasi pestisida/ ZPT atau pupuk daun yang akan kita gunakan. Hal ini sangat erat kaitanya dengan penggunaan pestisida yang ketentuan kebutuhannya menggunakan dosis bukan konsentrasi.

Masih ada yang bingung ya? Biasanya dalam petunjuk penggunaan pestisida ada 2 istilah yang digunakan untuk mengetahui jumlah kebutuhan pestisida:

  • Dosis adalah jumlah pestisida yang diperlukan dalam satuan luas, pohon, atau batang. Contoh : penggunaan POC merek A adalah 2 Liter/ hektar
  • Konsentrasi adalah jumlah pestisida yang diperlukan dalam satuan liter. Contoh: yang harus diaplikasikan POC merek A adalah 7 ml/ Liter air.

Para petani biasanya kurang sabar untuk melakukan kalibrasi pestisida atau mungkin mereka sudah sangat hafal kebutuhan larutan pestisida yang harus diaplikasikan ketanamannya. Misalnya petani sudah tahu butuh berapa tangki 14 liter untuk mengaplikasiakan pestisida untuk mengendalikan wereng pada tanaman umur 50 hst. Kebutuhan pestisida ini akan selalu berbeda sesuai dengan kebiasaan/ cara menyemprot,  jenis tanaman,  umur tanaman dan hama yang akan dikendalikan. Kebutuhan larutan untuk mengendalikan hama wereng jelas lebih banyak daripada hama walang sangit. Kebutukan larutan pestisida untuk menyemprot tanaman cabe jelas lebih banyak daripada tanaman kacang tanah. Penggunaan larutan pestisida untuk tanaman 1 minggu jelas lebih sedikit jika dibanding dengan tanaman umur 2 bulan.

.

Cara tehnik kalibrasi pestisida:

  1. Siapkan pengukur waktu (jam atau stopwatch)
  2. Siapkan tangki berisi air bersih dan pompa sampai penuh.
  3. Ukur lama waktu penyemprotan yang akan kita lakukan
  4. Lakukan penyemprotan pada satuan luas terkecil lahan kita (misalnya: 1 bedeng, 2 m persegi, 2 meter bedeng dll)
  5. Catat lama waktu penyemprotan satuan luas terkecil lahan kita,
  6. Lakukan lagi penyemprotan dengan jumlah waktu yang sama hanya saja tidak pada tanaman tetapi tampung  air tersebut dalam ember.
  7. Ukur berapa ml larutan tersebut
  8. Untuk mengetahui jumlah total larutan semprot, kalikan air yang anda tampung tadi dengan berapa kali luas lahan sample yang kita semprot tadi dibanding dengan  luas lahan kita . Kalau dirumuskan mungkin seperti ini:

          Vt  =  Vs  X  ( Lt : Ls)

          Keterangan :  - Vt : Kebutuhan Volume total untuk menyemprot suatu lahan

                              - Vs : Volume air hasil kalibrasi (yg ditampung di ember)

                              - Lt : Luas lahan total

                              - Ls : Luas lahan sample

Contoh aplikasi:

Sebuah POC harus diaplikasikan dengan dosis 2 liter/ hektar, berapa ml per tangki  harus kita aplikasikan? POC tersebut akan diaplikasikan ke tanaman padi umur 2 bulan.  Dengan contoh seperti itu kita harus mengetahui kebutuhan larutan pestisida yang kita perlukan untuk diaplikasikan pada tanaman kita. Sebagai contoh larutan yang kita perlukan untuk menyemprot padi umur 2 bulan dalam setiap hektar adalah 10 tangki 14 liter  .  Berarti kita memerlukan larutan semprot 140 liter untuk per hektarnya. Konsentrasi yang diperlukan adalah 2000 ml POC : 140 = 14, 28 ml POC/ liter air. Sehingga tiap tangki kita perlu memberi konsentrasi 14,28 X 14 = 200 ml POC tersebut. Atau lebih ringkasnya juga bisa dihitung dengan cara : 2000 ml POC : 10 Tangki semprot = 200 ml POC / tangki semprot.

Semoga artikel saya tersebut tidak membuat bingung pembaca Gerbang pertanian semua karena saya tidak pas dalam menjelaskannya. Harapan saya justru bisa menambah wawasan para pembaca semua bahkan bisa bermanfaat dan dapat diaplikasikan oleh para petani Indonesia. (maspary).

Senin, 27 Juni 2011

PGPR MENGENDALIKAN LAYU DAN MENYUBURKAN TANAMAN

PGPR-plant-growth-promoting-rhizobacteriaSalam pertanian !! Beberapa pembaca Gerbang Pertanian menyarankan agar kami menyediakan PGPR yang siap aplikasi. Oleh karena itu kami kini telah menyediakan PGPR dengan harga yang murah, hal ini kami lakukan untuk membantu para petani yang memerlukan PGPR tetapi belum sempat atau malas membuatnya.

Tetapi sebelumnya maspary akan menguraikan manfaat, cara kerja dan cara aplikasi PGPR secara sederhana terlebih dahulu. Seperti kita ketahui PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) adalah mikroorganisme yang menguntungkan yang hidup disekitar perakaran. Jika di daerah perakaran suatu tanaman kekurangan mikroorganisme menguntungkan maka akan menyebabkan tanaman menjadi terserang berbagai macam penyakit akar seperti layu dan busuk akar. Selain itu tanaman juga akan mengalami hambatan dalam pertumbuhannya (kurang subur).

Banyak petani yang berfikiran salah tentang cara pengendalian penyakit layu pada beberapa jenis tanaman seperti cabe, tomat, terong dll. Mereka terlalu meyakini dan terlalu mengandalkan pestisida kimia untuk megendalikan penyakit perakaran. Padahal menurut pengalaman saya belum ada pestisida kimia yang efektif untuk mengendalikan penyakit layu pada tanaman cabe, terong maupun tomat, terutama penyakit layu yang disebabkan oleh bakteri. Kenapa saya mengatakan demikian ? karena saya pernah menggunakan agrept dan agrimicyn mulai dari perendaman benih, dipesemaian hingga di pertanaman, namun tanaman cabe dan tomat saya masih terserang oleh layu bakteri. Padahal harga bakterisida kimia (agrept, agrimicyn dan bactocyn) harganya sangat mahal jika dibandingkan dengan PGPR.

PGPR sangat diperlukan oleh tanaman karena memiliki banyak manfaat. Manfaat yang dapat terlihat secara nyata adalah bahwa PGPR mencegah dan mengendalikan penyakit layu dan dapat memacu pertumbuhan tanaman. Apa sebenarnya yang dilakukan oleh PGPR ini sehingga mampu mengendalikan penyakit layu dan menyuburkan tanaman?

  1. PGPR memproduksi antibiotik untuk melindungi tanaman dengan cara menghambat pertumbuhan penyakit perakaran
  2. PGPR menjadi pesaing patogen penyebab penyakit dalam mendapatkan makanan disekitar perakaran sehingga pertumbuhan patogen merugikan menjadi berkurang.
  3. PGPR  merangsang pembentukan hormon atau ZPT Auksin, Sitokinin dan Giberellin sehingga tanaman terlihat lebih subur
  4. PGPR menghambat produksi etylen (zat yang menyebabkan tanaman cepat tua dan mati)
  5. PGPR meningkatkan penyerapan dan pemanfaatan unsur N oleh tanaman
  6. PGPR meningkatkan kemampuan tanaman dalam menyerap unsur Fe
  7. PGPR meningkatkan kemampuan tanaman dalam menyerap unsur S
  8. PGPR meningkatkan ketersediaan unsur P
  9. PGPR meningkatkan ketersediaan unsur Mn

Adapun cara aplikasi PGPR adalah sebagai berikut:

  1. PGPR Untuk perlakuan benih. Benih yang dibeli dari toko dan diduga mengandung pestisida cuci dulu sampai bersih hingga 3 � 4 kali. Rendam benih dalam larutan PGPR dengan konsentrasi 10 ml per liter air selama 10 menit hingga 8  jam tergantung jenis benihnya. Kemudian kering anginkan di tempat yang teduh sebelum dilakukan penanaman.
  2. PGPR Untuk perlakuan bibit. Jika untuk perlakuan bibit dan stek atau biakan vegetatif lain tinggal direndam beberapa saat saja lalu langsung ditanam. Konsentrasi yang diperlukan adalah 10 ml per liter air.
  3. PGPR Untuk perlakuan pada tanaman. Buat PGPR dengan konsentrasi 5 ml per liter air. Untuk aplikasi pada tanaman semusim (cabe, terong, timun dll) siramkan 1 - 2 gelas aqua larutan tadi  ke daerah perakaran. Jika untuk tanaman tahunan jumlah larutan yang digunakan dapat diperkirakan sendiri sesuai dengan umur dan jenis tanaman, sebagai ukuran adalah siram daerah perakaran sampai basah.

Lama waktu peredaman benih atau bibit dengan PGPR

NO

BENIH ATAU BIBIT

WAKTU  PERENDAMAN

  1 Padi, cabai, terong dan kangkung

2 � 8 jam

  2 Stek tanaman berkayu dan bahan biakan dengan rhizoma (pisang, aglaonema dan sebagainya)

2 � 8 jam

  3 Kacang-kacangan (kacang panjang, kedelai, buncis, kacang tanah dan sebagainya)

5 � 15 menit

  4 Timun-timunan (mentimun, semangka, melon dan sebagainya)

5 menit

  5 Jagung dan tomat

15 � 30 menit

  6 Bayam dan kubis-kubisan (pak choi, caisin, kubis dan sawi putih)

5 menit

Perlakuan PGPR pada berbagai tanaman

NO

JENIS TANAMAN

PERLAKUAN AWAL

PERLAKUAN SUSULAN

  1 Benih yang disemaikan dan memiliki umur produktif kurang lebih 30 hari (bayam, caisin dan sebagainya) Perlakuan benih 1 minggu setelah tanam dan 2 minggu setelah tanam
  2 Benih tanam langsung dengan umur tanaman kurang lebih 60 hari (Jagung manis) Perlakuan benih 3 minggu setelah tanam dan 5 minggu setelah tanam
  3 Benih disemaikan dengan usia tanam 3 � 4 bulan (padi, cabe, terung, melon dan sebagainya) Perlakuan benih 1 minggu sebelum pindah tanam, 3 atau 5 minggu setelah tanam
  4 Benih tanam langsung dengan umur tanaman kurang lebih 3 bulan ( jagung, kacang panjang, kedelai, mentimun dan sebagainya Perlakuan benih 3  minggu setelah tanam, 7  atau 9 minggu setelah tanam
  5 Tanaman berumur kurang lebih 12 bulan (pisang) Perlakuan benih atau bibit Perlakuan dilakukan sebulan sekali sejak ditanam hingga tanaman berumur 1 bulan sebelum panen
  6 Tanaman disemaikan dengan umur kurang lebih 3 tahun (pepaya) Perlakuan benih 1 minggu sebelum pindah tanam dan  penyiraman satu bulan sekali setelah pindah tanam.
7 Tanaman tahunan Perlakuan benih atau bibit Penyiraman 1 bulan sekali.

Jika rekan-rekan Gerbang Pertanian ada yang berminat untuk membeli PGPR silahkan hubungi maspary 081 226 302 97 (SMS only). Harganya murah cuma 10.000 per 600 ml (1 botol aqua). Untuk mengetahui tata cara pembelian silahkan klik disini. Untuk melihat produk yang lain dari Gerbang Pertanian silahkan klik disini.

Trimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel dari Gerbang Pertanian, semoga informasi yang kami sampaikan kali ini bisa memberikan manfaat bagi pembaca semua.

Selasa, 14 Juni 2011

CARA SEDERHANA MEMBUAT FUNGISIDA ORGANIK

fungisida-organik Setelah sebelumnya Gerbang Pertanian menulis berbagai macam artikel tentang insektisida organik kini kami ingin sedikit membagikan tips kepada pembaca semua tentang bagaimana cara sederhana membuat fungisida organik. Saya katakan sederhana karena caranya memang simpel, cepat dan tidak ribet.

Bagi pembaca yang belum tahu apa itu fungisida organik maspary akan menjelaskan istilah tersebut terlebih dahulu. Sehingga tidak terjadi salah pengertian dan salah aplikasinya. Fungisida berasal dari kata fungi dan sida, fungi berarti jamur sedangkan sida berarti racun. Sedangkan organik adalah semua bahan yang berasal dari mahluk hidup. Jadi bisa kita simpulkan arti dari fungisida organik adalah bagian dari mahluk hidup baik itu tanaman, hewan maupun manusia yang bisa berfungsi sebagai racun bagi jamur penyebab penyakit pada tanaman. Sehingga fungisida organik tersebut tidak bisa untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan virus, apalagi untuk mengatasi hama jelas nggak bisa. Oleh karena itu kita harus jeli dan paham dulu serta bisa menentukan penyebab penyakit pada suatu tanaman sebelum mengendalikannya.

Fungsida organik yang akan Gerbang Pertanian jelaskan nanti lebih bersifat mencegah bukan mengobati, karena fungisida organik tersebut cenderung bersifat kontak cara kerjanya. Namun dari berbagai pengalaman petani fungisida organi tersebut lumayan ampuh untuk mengendalikan penyakit pada berbagai tanaman seperti padi, cabai, tomat, terong dan sayuran lainnya.

Nggak usah panjang lebar langsung saja kita praktek membuatnya:

Alat dan bahan fungisida organik:

  1. Bender bumbu, atau lumpang atau alat penghalus lainnya
  2. Saringan yang lembut
  3. Kunir  1 bagian
  4. Jahe 1 bagian
  5. Laos 1 bagian

Cara membuat fungisida organik:

  1. Cara membuat fungisida organik ini sangatlah mudah yaitu tinggal diblender saja sampai halus dan keluar airnya.
  2. Setelah halus silahkan peras dan ambil airnya
  3. Kemudian saring dengan penyaring atau kain.

 

Cara Aplikasi fungisida organik:

  1. Ambil 2 - 3 sendok makan larutan tadi kemudian campurkan dengan air satu tangki sprayer (kurang lebih 14 liter).
  2. Bila perlu tambahkan detergen atau sabun pencuci piring satu atau dua sendok
  3. Semprotkan secara merata pada seluruh daun dan batang tanaman
  4. Jangan lupa nyemprotnya pagi atau sore hari ya! Kalau lebih bagusnya sih sore hari saja tapi kalau tidak mendung.

Sebenarnya perlu dikaji lebih jauh sejauh mana efikasi fungisida organik ini. Bisa digunakan untuk tanaman apa saja dan untuk penyakit apa saja. Tapi saya kira ini bukan tugasnya maspary, tapi tugasnya para dosen, mahasiswa atau peneliti lainnya. Karena telah diketahui bersama dari ketiga bahan diatas mengandung zat yang sangat berkasiat obat bagi manusia sejak lama.

Sebenarnya Gerbang Pertanian masih ada artikel tentang cara membuat fungisida organik yang lain, namun akan kami postingkan lain waktu saja. Ini sudah terlalu panjang, saya takut pembaca semua jadi bosan.

Dan akhirnya selamat mencoba tips dari Gerbang Pertanian tentang cara sederhana membuat fungisida organik. Semoga bisa bermanfaat dalam mendukung kesuksesan bertani para pembaca semua.(maspary)

Kamis, 02 Juni 2011

INSEKTISIDA BIOLOGI BEAUVERIA BASSIANA

bioinsektisida-beauveria-bassiana-2 Rekan-rekan petani dan pecinta pertanian semua, kali ini Gerbang Pertanian akan sedikit mengulas tentang jamur atau cendawan musuh alami dari berbagai jenis serangga hama yaitu Beauveria bassiana. Cendawan ini biasa dikenal sebagai cendawan patogen serangga yaitu cendawan yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga. Cara kerjanya cendawan ini akan membuat sakit serangga hama baru kemudian menyebabkan hama tersebut mati. Beberapa contoh serangga yang dapat dikendalian oleh Beauveria bassiana antara lain berbagai jenis wereng, walang, walang sangit, ulat, lembing dan sundep beluk (penggerek batang).

Beauveria bassiana secara alami terdapat didalam tanah sebagai jamur saprofit. Pertumbuhan jamur di dalam tanah sangat dipengaruhi oleh kondisi tanah, seperti kandungan bahan organik, suhu, kelembapan, kebiasaan makan serangga, adanya pestisida sintetis, dan waktu aplikasi.Secara umum, suhu di atas 30 �C, kelembapan tanah yang berkurang dan adanya antifungal atau pestisida dapat menghambat pertumbuhannya.


Cara cendawan Beauvaria bassiana menginfeksi tubuh serangga dimulai dengan kontak inang, masuk ke dalam tubuh inang, reproduksi di dalam satu atau lebih jaringan inang, kemudian kontak dan menginfeksi inang baru.

Menurut beberapa artikel yang maspary baca Beauveria bassiana masuk ke tubuh serangga inang melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya. Inokulum jamur yang menempel pada tubuh serangga inang akan berkecambah dan berkembang membentuk tabung kecambah, kemudian masuk menembus kulit tubuh. Penembusan dilakukan secara mekanis dan atau kimiawi dengan mengeluarkan enzim atau toksin.Pada proses selanjutnya, jamur akan bereproduksi di dalam tubuh inang. Jamur akan berkembang dalam tubuh inang dan menyerang seluruh jaringan tubuh, sehingga serangga mati. Miselia jamur menembus ke luar tubuh inang, tumbuh menutupi tubuh inang dan memproduksi konidia.Dalam hitungan hari, serangga akan mati. Serangga yang terserang jamur Beauveria bassiana akan mati dengan tubuh mengeras seperti mumi dan jamur menutupi tubuh inang dengan warna putih.

Dalam infeksinya, Beauveria bassiana akan terlihat keluar dari tubuh serangga terinfeksi mula-mula dari bagian alat tambahan (apendages) seperti antara segmen-segmen antena, antara segmen kepala dengan toraks , antara segmen toraks dengan abdomen dan antara segmen abdomen dengan cauda (ekor).Setelah beberapa hari kemudian seluruh permukaan tubuh serangga yang terinfeksi akan ditutupi oleh massa jamur yang berwarna putih.Penetrasi jamur entomopatogen sering terjadi pada membran antara kapsul kepala dengan toraks atau diantara segmen-segmen apendages demikian pula miselium jamur keluar pertama kali pada bagian-bagian tersebut.

Dari informasi yang diperoleh Gerbang Pertanian telah diketahui lebih dari 175 jenis serangga hama yang menjadi inang jamur Beauveria bassiana . Hebat bukan??? Berdasarkan hasil kajian jamur ini efektif mengendalikan hama walang sangit (Leptocorisa oratorius) dan wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) pada tanaman padi serta hama kutu (Aphis sp.) pada tanaman sayuran. Sebagian contoh lain yang menjadi inang jamur B. bassiana adalah jangkrik, ulat sutra, dan semut merah. Karena B.bassiana dapat menyerang hampir semua jenis serangga, cendawan ini digolongkan ke dalam non-selektif pestisida sehingga dianjurkan tidak digunakan pada tanaman yang pembuahannya dibantu oleh serangga.

Penggunaan jamur ini untuk membasmi hama dapat dilakukan dengan beberapa metode. Jamur ini bisa dipakai untuk jebakan hama. Adapun cara penggunaanya yaitu dengan memasukkan Beauveria bassiana beserta alat pemikat berupa aroma yang diminati serangga (feromon) ke dalam botol mineral. Serangga akan masuk ke dalam botol dan terkena spora. Akhirnya menyebabkan serangga tersebut terinfeksi. Cara aplikasi lain yaitu dengan metode penyemprotan.

Serangga yang telah terinfeksi Beauveria bassiana selanjutnya akan mengkontaminasi lingkungan, baik dengan cara mengeluarkan spora menembus kutikula keluar tubuh inang, maupun melalui fesesnya yang terkontaminasi. Serangga sehat kemudian akan terinfeksi. Jalur ini dinamakan transmisi horizontal patogen (inter/intra generasi).

Menurut Gerbang Pertanian ada kendala dilapangan dalam aplikasi pestisida biologis, yaitu pestisida biologis sangat peka terhadap keadaan lingkungan. Jika aplikasi pestisida biologis tersebut pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan bagi perkembangan pestisida tersebut maka aplikasi pestisida biologis akan kurang efektif. Sebagai contoh jika suhu terlalu panas atau dingin, kelembaban terlalu rendah, angin terlalu kencang dll. Maka dalam aplikasi pestisida biologis sangat perlu diperhatikan keadaan lingkungan.

Demikian sekelumit artikel tentang Beauveria bassiana yang bisa digunakan sebagai salah satu alternatif non kimia pengendalian hama-hama pada tanama pangan maupun hortikultura. Harapan Maspary dan Gerbang Pertanian semoga artikel tersebut bisa memberikan wawasan baru dan sumber inspirasi dalam mengendalikan hama pada tanaman (maspary).

Senin, 09 Mei 2011

CARA MENGEMBANGKAN BIOFUNGISIDA TRICHODERMA SP

membiakkan-jamur-trichoderma Jumpa lagi dengan Gerbang Pertanian. Kali ini kita akan belajar mengembangkan biofungisida Trichoderma sp. Yaitu bagaimana cara mengembangkan/ menumbuhkan starter Trichoderma sp di media tertentu sehingga menjadi Trichoderma yang siap aplikasi ke lapang.

Biofungisida merupakan jenis pestisida  dari organisme tertentu yang digunakan untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh jamur pada tanaman. Seperti kita ketahui salah satu diantara biofungisida yang dapat mengendalikan akar gada pada tanaman kubis dan layu pada tanaman hortikultura yang disebabkan jamur Fusarium sp adalah Trichoderma sp.

Seperti yang pernah saya tulis beberapa waktu lalu Trichoderma sp selain bersifat sebagai biofungsida juga bisa digunakan sebagai dekomposer pada pembuatan pupuk organik. Trichoderma sp juga mempunyai sifat antagonis terhadap beberapa jamur penyebab penyakit tanaman diantaranya Fusarium moniliforme dan Sclerotium rolfsii. Cendawan tersebut mengendalikan penyakit tanaman dengan cara menghambat timbulnya racun dari cendawan yang dapat menyebabkan tanaman sakit. Mekanisme antagonistik cendawan antagonis terjadi melalui kompetisi, antibiosis, dan hiperparasitisme.

Cara mengembangkan biofungisida Trichoderma sp:

Bahan-bahan:

  1. 6 Kg serbuk gergaji halus
  2. 4 Kg dedak
  3. Air secukupnya (20 % dari media campuran)
  4. Starter Trichoderma sp
  5. Kantong palstik ukuran 15 cm X 25 cm dengan ketebalan 0,4 ml
  6. Alkohol 70 %

Alat:

  1. Kompor
  2. Dandang besar
  3. Plastik untuk alas ukuran 2 m X 2 m
  4. Sendok kecil/ sendok teh
  5. Lilin

Cara Pembuatan Jamur Trichoderma sp:

  1. Campurkan secara merata  serbuk gergaji dan dedak diatas alas plastik
  2. Tambahkan air kedalam campuran tadi dengan kadar air sekitar 20 % (jika digenggam kuat tidak menetes airnya dan jika dilepaskan tidak pecah atau hancur)
  3. Masukkan bahan kedalam plastik media hingga kira2 setengahnya, lipat ujungnya.
  4. Sterilkan media tersebut kedalam dandang selama 1,5 - 2 jam
  5. Dinginkan dalam suhu kamar
  6. Masukkan starter Trichoderma sp seujung sendok teh ke dalam media tersebut didepan lampu lilin. Sendok teh sebelumnya bersihkan dulu dengan alkohol dan bakar dengan lampu lilin. Lakukan ditempat yang bersih dan jangan berbincang ketika memasukkan inokulum (kalau perlu pakai masker)
  7. Lipat kembali ujung plastik dan rekatkan dengan selotip
  8. Simpan dalam ruangan yang bersih
  9. Setelah 7 � 14 hari, cendawan Trichoderma sp siap diaplikasikan. Indikatornya media berubah warna hijau tua kehitaman dan tidak berbau busuk.

Cara Aplikasi Jamur Trichoderma sp pada tanaman:

  1. Untuk aplikasi Trichoderma sp pada pesemaian dilakukan dengan cara mencampur Jamur Trichoderma : Tanah : pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 2 : 1
  2. Aplikasi pada pertanaman dilapangan dilakukan dengan cara bersamaan dengan pupuk dasar atau dicampur dengan pupuk kandang dengan dosis 10 � 20 gr jamur Trichoderma sp per lubang atau 140 kg per hektar.
  3. Cara aplikasi pada tanaman tahunan (jeruk, mangga, durian, alpukat dll) dilakukan dengan cara mencampur Trichoderma sp dengan pupuk kandang lalu ditaburkan pada lubang disekitar perakaran dengan dosis 1 � 4 kg per tanaman.

Menurut beberapa penelitian dengan aplikasi Trichoderma sp disekitar perakaran  maka 90 % tanaman akan terhindar dari penyakit layu dan pertumbuhan akan lebih optimal. Untuk lebih jelas tentang apa itu Trichoderma sp dan manfaat dari Trichoderma sp silahkan baca artikel terdahulu dari Gerbang Pertanian yang berjudul Trichoderma sp sebagai pupuk biologis dan biofungisida.

Sekian dulu artikel dari Gerbang Pertanian yang berjudul cara mengembangkan biofungisida Trichoderma, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua khususnya bagi para petani indonesia yang sedang mengalami kendala layu dalam budidayanya, sehingga Trichoderma sp ini bisa digunakan sebagai alternatif pengendalian selain dengan cara kimia.(maspary)

Kamis, 14 April 2011

PERBEDAAN EM4, MOL DAN PGPR

perbedaan em4-mol-pgpr Tulisan tentang perbedaan antara EM4, MOL dan PGPR ini terinspirasi oleh salah seorang rekan Gerbang Pertanian yang menanyakannya beberapa waktu lalu. Kalau kita amati sekilas memang antara EM4, MOL dan PGPR memang nampak hampir sama baik cara pembuatannya dan bentukknya. Seperti yang telah kita bahas beberapa waktu yang lalu tentang cara pembuatan EM4, MOL maupun PGPR.

Sebenarnya ada beberapa perbedaan yang mendasar dari EM4, MOL dan PGPR:

VARIABEL

EM4

MOL

PGPR

Bahan dasar pembuatan Buah-buahan Buah-buahan, Kotoran Hewan yang masih segar, Sampah dapur, Bonggol pisang, Nasi, trasi dll Akar bambu, ataupun akar tanaman yang lain yang tahan terhadap penyakit akar.
Manfaat Mempercepat pembuatan kompos, menambah microorganisme tanah, menambah kesuburan tanah, bisa digunakan sebagai pupuk daun. Mempercepat pembuatan kompos, menambah microorganisme tanah, menambah kesuburan tanah, bisa digunakan sebagai pupuk daun Mencegah penyakit akar tanaman, menyuburkan akar  tanaman, menambah mikroorganisme yang membantu tanaman, memproduksi Hormon bagi tanaman
Kandungan dan Jenis Mikroorganisme Bakteri fotosintetik, Actinomicetes, Bakteri asam laktat, Ragi dan jamur fermentasi.mengandung asam amino dan unsur mikro, Tergantung bahan pembuatnya dan masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tetapi pada prinsipnya kandungannya hampir sama dengan EM 4

Pseudomonas putida, P. fluorescens, Serratia liquefaciens, P. putida biovar B, dan Arthrobacter citreus (bakteri bermanfaat yang tumbuh disekitar akar)

Arti Effective Microorganisme (Microorganisme yang bermanfaat bagi tanaman) Micro Organisme Lokal (mikroorganisme yang bersumber dari bahan tertentu yang bermanfaat bagi pertumbuahan tanaman. Sebagai contoh mikroorganisme dari rumen sapi, rumen kambing, bonggol pisang, nasi, buah-bahan dll) Plant Growth Promoting Rhizobacteria (Mikroorganisme yang berada disekitar perakaran tanaman)
Apliksi pada tanaman Pada daun dan akar tanaman Pada daun dan akar tanaman Hanya pada akar tanaman

Perbedaan antara EM4, MOL dan PGPR yang saya tulis diatas hanyalah analisa berdasarkan pemikiran saya saja yang informasinya saya peroleh dari berbagai sumber baik online maupun offline. Saya sangat mengharapkan adanya penambahan informasi tentang perbedaan diantara ketiga bahan tersebut dari para pakar ilmu mikrobiologi untuk menyempurnakan tulisan saya diatas.

-maspary-

Sabtu, 26 Maret 2011

CORYNEBACTERIUM PADI SEHAT BEBAS KRESEK



Salam pertanian!! Serangan penyakit kresek, hawar daun bakteri (BLB) pada tanaman padi telah meresahkan para petani kita. Sepertinya sekarang ini kresek telah menjadi penyakit utama pada tanaman padi. Kerugian yang ditimbulkan oleh serangan kresek tidak main-main, bisa mencapai 75 %.

Belum pahamnya petani tentang penyakit kresek ini menjadi kendala untuk mengendalikannya. Berbagai cara pengendalian secara kimia dilakukan petani namun banyak yang belum mendapatkan hasil yang maksimal. Padahal ada cara organik yang sangat efektif untuk mengendalikan penyakit kresek ini (keefektifannya bisa mencapai 80%).

Salah satu pengendali kresek yang telah teruji dalam berbagi demplot kita di daerah Banyumas adalah dengan menggunakan agensi hayati Coryne bacterium sp. Selain harganya sangat murah Coryne bacterium sp juga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan.

Coryne bacterium sp. yang merupakan salah satu agens hayati bersifat antagonis dapat mengendalikan beberapa jenis penyakit tanaman. Yang paling utama Coryne bacterium sp. dapat mengendalikan penyakit kresek pada tanaman padi yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas campestris pv oryzae.

Adapun penyakit tanaman lain yang dapat dikendalikan oleh agens antagonis Coryne bacterium sp adalah penyakit bercak daun pada jagung, penyakit bengkak akar pada kubis, dan penyakit bakteri layu pisang

Bakteri ini berbentuk batang, jenis gram positif. Koloninya berwarna putih kotor, dan di bawah lampu ultra violet tidak bereaksi. Kemampuan bakteri ini dalam menekan penyakit Kresek (BLB) mencapai 80 persen.

Sasaran bakteri Coryne bacterium sp.

Bakteri ini efektif untuk mengendalikan penyakit Kresek (BLB) yang disebabkan oleh Xanthomonas campestris pv oryzae, Hawar Daun Jingga (BRS) yang disebabkan oleh Pseudomonas sp pada tanaman padi, bercak daun Helminthosporium sp dan Cercospora sp pada tanaman jagung, penyakit akar gada (Plasmodiophora brassicae) pada tanaman kubis, serta penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum) pada tanaman pisang.

Untuk cara penggunaan Coryne bacterium sp. dapat anda download di sini.

Gerbang Pertanian juga menyediakan Coryne bacterium sp yang siap aplikasi dengan harga Rp.12500/ botol 600 ml.

Untuk pembelian Coryne Bacterium silahkan Klik disini atau pada menu order.

Minggu, 13 Februari 2011

MEMANFAATKAN LIMBAH TAHU MENJADI PESTISIDA ORGANIK DAN PUPUK ORGANIK CAIR (POC)

limbah tahu Salam Pertanian!! Bukan rahasia umum lagi kalau tanah kita telah sangat menurun kesuburannya. Pemberian pupuk yang banyak terkadang tidak membawa dampak positif terhadap produksi yang diharapkan. Penurunan kesuburan ini disebabkan oleh diforsirnya tanah selama bertahun-tahun tanpa ada usaha perbaikan kualitas tanah dengan cara pengembalian bahan organik.

Banyak cara telah diupayakan untuk meningkatkan kesuburan tanah kita diantaranya adalah diproduksinya berbagai produk yang berlabel organik diantaranya adalah POC (pupuk organik cair) dan pestisida organik. Hal ini dilakukan juga untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia. Pembuatan berbagai produk organik diarahkan supaya mengutamakan pemanfaatan limbah bahan lokal yang banyak tersedia di sekitar kita.

Salah satu contoh penggunaan bahan llimbah lokal adalah menggunakan limbah cair tahu. Limbah tahu dapat dipakai sebagai pupuk dan pestisida bahkan fungisida organik dengan bantuan tambahan dari bahan yang lain, diantaranya adalah menggunakan bahan empon-empon atau tanaman herba melalui proses fermentasi. Sedangkan limbah cair tahu banyak mengandung sisa protein dan asam cuka sehingga mampu mendukung efektifitas fermentasi.


Untuk membuat pupuk organik cair dan pestisida organik dari limbah tahu sebenarnya tidaklah sulit :


Bahan yang digunakan :

  1. Air limbah tahu 70 liter
  2. Air kelapa 30 liter
  3. Alkohol 70% 1 liter
  4. Temu lawak 4 kg
  5. Sereh 1 kg
  6. Dekomposer (EM) 2 liter.

Cara pembuatannya :

  1. Cuci bersih semua tanaman herba lalu lakukan penghancuran dengan pemblenderan atau penggilingan
  2. Masukkan dalam air limbah tahu yang sudah dimasukkan dalam drum plastik ukuran 100 liter
  3. Kemudian tambahkan alkohol dan dekompuser (EM)
  4. Kemudian ditutup dan disimpan selama 10 hari.
  5. Bila larutan berbau menyengat pertanda bahwa pupuk dan pestisida organik jadi dan bila belum menyengat ada kemungkinan reaksi fermentasi belum sempurna atau tidak jadi.
  6. Sebagai catatan bahan tersebut di atas tidak menggunakan asam cuka karena limbah tahu sudah mengandung asam cuka (kecutan) dan untuk meningkatkan efektifitas pestisida dan fungisida organik bisa ditambahkan berbagai macam tanaman herba misal kunir, daun mindi, dll.

Cara penggunaan :

  1. 1 liter bahan dilarutkan dengan 10 liter air (Perbandingan 1:10)
  2. Kemudian disemprotkan pada tanaman secara merata pada pagi atau sore hari
  3. Pupuk dan pestisida ini dapat digunakan untuk tanaman padi, jagung, kedelai, buah dan sayuran.

Untuk mengetahui tingkat efektifitas dari pupuk organik cair dan pestisida organik dari limbah tahu tersebut masih perlu dilakukan berbagai macam penelitian untuk mengetahui jenis hama dan penyakit yang dapat dikendalikan. Atau jika tema-teman punya pengalaman tentang limbah tahu ini silahkan berbagi dengan pembaca lain di kolom komentar dibawah ini.

-maspary-

Senin, 27 Desember 2010

CARA TEPAT APLIKASI BAKTERI CORINE (CORINE BACTERIUM)

06032010(006) Beberapa waktu lalu kita telah berbicara tentang cara memperbanyak bakteri corine dimana salah satu fungsi bakteri corine ini adalah untuk mengendalikan penyakit kresek pada tanaman padi kita. Untuk menjawab beberapa pertanyaan tentang aplikasi bakteri corine ini maka saya ingin sedikit menjelaskan cara penggunaan bakteri corine ini.

Sebenarnya cara aplikasi bakteri corine tidak jauh berbeda dengan aplikasi pestisida pada umumnya yaitu dengan cara disemprotkan menggunakan tangki sprayer, hanya ada beberapa perbedaan yang perlu dipahami. Adapun hal-hal yang perlu dipahami dalam pengaplikasian bakteri corine tersebut adalah:

  1. Coryne bacterium hanya bersifat mencegah bukan mengobati tanaman padi yang telah terserang hama kresek. Oleh karena itu aplikasikan Coryne bacterium selagi tanaman padi anda belum terserang.
  2. Konsentari penggunaan sebenarnya belum ada penelitian yang tepat dan efisien namun berdasarkan pengalaman petani konsentrasi yang umum digunakan adalah 100-200 ml/ tangki semprot 14-17 liter (0,5-1 gelas aqua/ tangki semprot)
  3. Jangan dicampur dengan pestisida kimia. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga agar bakteri corine yang kita semprotkan tidak mati. Bagaimanapun juga bakteri corine adalah mahluk hidup jadi akan mati jika dicampur pestisida kimia
  4. Aplikasikan pada pagi hari sebelum jam 9. Ketika masih pagi matahari belum terik sehingga panasnya tidak membunuh bakteri corine. Bisa juga disemprotkan pada sore hari setelah jam 4. Tapi perlu diingat jangan mengaplikasikan bakteri corine ketika hari akan hujan
  5. Semprotkan secara merata pada seluruh bagian tanaman padi. Bagian tanaman padi baik itu, malai, daun maupun pelepah bisa saja sebagai sumber infeksi bakteri Xanthomonas penyebab penyakit kresek sehingga perlu sisemprot menggunakan larutan bakteri corine.
  6. Lakukan aplikasi penyemprotan ketika tanaman padi berumur sekitar 15 hst dan ulangi lagi saat tanaman berumur 30 hst, 45 hst dan 60 hst.
KAMI MENYEDIAKAN CORYNE BACTERIUM YANG SIAP DIGUNAKAN UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT KRESEK/ BLB PADA TANAMAN PADI ANDA. HARGA CUMA Rp 12.500/ 600ML. Klik disini untuk membeli !!

Artikel terkait: Corynebacterium padi sehat bebas kresek.

Trimakasih telah bersedia membaca artikel ini, dan semoga bermanfaat bagi kita semua. Pertanyaan, Kritik dan saran silahkan isikan pada kolom komentar dibawah ini. Semoga pertanian kita semakin maju dan petani semakin sejahtera. salam pertanian!!

-by maspary-

Rabu, 08 Desember 2010

CARA PEMBUATAN EKSTRAK KENTANG UNTUK PEMBIAKAN BAKTERI KORINE (CORYNE BACTERIUM)

KENTANG1 Setelah kita membaca cara pembiakan/ memperbanyak bakteri corine (Coryne bacterium) tentunya kita harus membuat ekstrak kentang sebagai media utama pembiakan tersebut. Ini adalah cara pembuatan ekstrak kentang untuk pembiakan bakteri corine (Coryne bacterium) :

Alat dan Bahan:

  1. Air bersih 20 liter
  2. Kentang 6 KG
  3. Gula pasir 0,5 KG
  4. Kompor
  5. Panci besar
  6. Pisau

Cara Pembuatan:

  1. Kupas kentang
  2. Cuci sampai bersih
  3. Potong-potong sampai ukuran kira-kira 1 cm3
  4. Rebus sampai kentang benar-benar lunak
  5. Ambil kentang yang berada dalam panci
  6. Biarkan dingin, setelah dingin campurkan dan larutkan gula pasir 0,5 kg kedalam ekstrak kentang tadi.
  7. Ekstrak kentang untuk pembiakan bakteri corine (Coryne bacterium) telah jadi namun sebaiknya saring dahulu sebelum digunakan.

-by maspary-

Senin, 06 Desember 2010

CARA PEMBIAKAN/ MEMPERBANYAK BAKTERI CORINE (Coryne bacterium)

02092010(004) Pada beberapa waktu lalu saya telah memosting tentang manfaat Bacteri Corine (Coryne bacterium) untuk mengendalikan penyakit kresek pada tanaman padi. Kini saya ingin menulis sedikit tentang pengalaman saya memperbanyak bakteri corine tersebut hingga bisa dimanfaatkan petani untuk mengendalikan penyakit kresek tersebut.

Alat dan Bahan:

  1. 3 buah toples yang ada tutupnya
  2. 2 meter selang akuarium
  3. Galon air mineral
  4. Air bersih secukupnya
  5. Ekstrak kentang
  6. Glasswoll
  7. PK (obat kulit)
  8. Air pump (untuk akuarium)
  9. Isolat bakteri korine (Coryne bacterium)

Cara Pembuatan:

  1. Pasang alat-alat secara berurutan dan hubungkan dengan selang mulai dari Air pump, toples, toples, galon air mineral dan toples. cara pemasangan selang yang benar adalah selang harus menempel rapat di toples maupun galon. Jangan sampai ada lobang udara. Selang masuk udara harus menyentuh dasar toples sedangkan selang buangan udara hanya sedikit saja masuk kedalam toples. Selang jangan sampai terhimpit dan rapat ataupun tersumbat. Agar sambungan selang dengan toples rapat gunakan lem bakar yang diteteskan pada sambungan tersebut. 02092010(001)
  2. Isi toples pertama dengan larutan PK kira-kira 3/4 tinggi toples ( 1 ujung sendok teh PK larutkan dalam satu liter air)
  3. Isi toples kedua dengan glasswoll
  4. Isi galon air mineral dengan ekstrak kentang dan isolat bakteri korine (Coryne bacterium)
  5. Isi toples terakhir dengan air bersih
  6. Tutup rapat toples-toples tersebut hingga tidak tembus udara jika perlu rapatkan dengan lakban ataupun isolasi.
  7. Hubungkan air pump dengan stop kontak
  8. Biarkan beberapa saat sampai ujung selang pada toples yang berisi air bersih keluar gelembungnya. Jika ujung selang tersebut belum bergelembung udara berarti masih ada sambungan yang bocor.
  9. Perbaiki lagi sambungan (Instalasi) sampai benar-benar rapat (Kunci utama keberhasilan pembuatan bakteri korine (Coryne bacterium) ini ada pada cara instalasi.
  10. Jika sudah benar sambungan biarkan proses pembiakan terjadi selama 20 hari.

NB: untuk mengetahui cara pembuatan ekstrak kentang silakan baca Cara Pembuatan Ekstrak Kentang Untuk Pembiakan bacteri korine (Coryne bacterium)


JIKA PEMBACA GERBANG PERTANIAN ADA YANG BERMINAT DENGAN CORYNE BACTERIUM (BAKTERI CORINE) YANG SIAP DIAPLIKASIKAN KE TANAMAN PADI KAMI MENYEDIAKAN DALAM BOTOL KEMASAN AIR MINERAL 600 ml DENGAN HARGA Rp10.000 / BOTOL. ANDA MINAT? SILAHKAN HUBUNGI SAYA MELALUI HP 08122630297 (MASPARY)

-maspary-

Sabtu, 28 Agustus 2010

MENGENDALIKAN HAMA PENGGEREK BATANG PADI DENGAN PARASITOID TELUR TRICHOGRAMMA SP.

TRICHOGRAMMA 3 Dalam sistem pertanian organik pengendalian hama dan penyakit menggunakan pestisida kimia adalah haram hukumnya. Dalam sistem pengendalian hama dan penyakit secara terpadu penggunaan bahan kimia merupakan alternatif terakhir. Hal ini semua bertujuan untuk kesehatan dan kelestarian lingkungan kita.

Hama penggerek batang padi akhir-akhir ini telah menjadi hama utama didaerah tertentu. Hama ini biasanya menyerang saat musim kemarau. Untuk membaca tentang cara mengendalikan hama penggerek batang padi yang efektif silakan baca disini. Sesuai dengan judul tulisan kali ini saya ingin membahas tentang parasitoid telur penggerek batang padi.

Hama penggerek batang padi sangat sulit dikendalikan, karena larva hama ini bertempat tinggal didalam batang tanaman padi. Sedangkan imago hama penggerek batang padi selalu beterbangan kesana kemari. Salah satu kelemahan utama hama penggerek batang padi adalah ketika hama tersebut memasuki fase telur. Telur-telur hama ini diletakkan di dibawah permukaan daun. Yang jadi masalah adalah bagaimana cara membunuh telur-telur hama penggerek batang padi ini. Apakah ada ovusida untuk menjoblokan telor-telor penggerek batang padi tersebut.

Dari Balai Besar Peramalan Organisne Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) telah diteliti dan ditemukan sebuah pemangsa telor (parasitoid telor) penggerek batang padi. Trichogramma sp merupakan salah satu parasitoid telur dari hama penggerek batang padi yang mudah dikembangbiakkan, hanya butuh ketelatenan dari petani. Parasitoid telor ini terbukti sangat efektif mengendalikan hama penggrek batang padi karena parasitoid telor Trichogramma sp akan selalu memburu dan memangsa telor-telor dari penggrek batang padi sehingga telor-telor tersebut akan mati sebelum berubah menjadi ulat.

Kadang-kadang petani masih ragu untuk mengembangkan dan menggunkan parasitoit telur trichogramma sp ini karena biasanya sikap petani yang ingin serba instan, praktis dan cepat. Akan tetapi demi kelestarian lingkungan dan demi kesehatan kita sebaiknya petani belajar untuk menggunakannya.

Untuk mengetahui cara pembiakan dan perbanyakan parasitoid telur Trichogramma sp silakan baca postingan saya disini.

Semoga sedikit wacana tentang cara mengendalikan hama penggerek batang padi dengan menggunakan parasitoid Trichogramma sp ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

-by maspary-

Selasa, 20 Juli 2010

PESTISIDA NABATI / ORGANIK (BIJI JARAK PENGENDALI HAMA ULAT DAN PENGHISAP)

jarak Salam pertanian! Tanaman jarak sebagai tanaman pagar yang dipublikasikan sebagai penghasil bioetanol ternyata juga mempunyai fungsi sebagai pestisida nabati. Biji jarak mengandung reisin dan alkaloid. Pestisida hasil larutan biji jarak sangat efektif digunakan sebagai pengendali hama ulat dan hama penghisap. Adapun cara pembuatan pestisida nabati dari biji jarak adalah sebagai berikut:

  1. Hancurkan atau tumbuk biji jarak sebanyak 0,75 gr.
  2. Rebus selama 10 menit dalam air 2 lt yang telah ditambahkan minyak tanah 2 sendok makan dan 50 gr detergen.
  3. Rendam selama 1 hari satu malam
  4. Saring larutan tadi dan tambahkan air sebanyak 10 liter
  5. Larutan siap digunakan/ disemprotkan ke tanaman.

Uraian yang singkat tadi smoga bisa bermanfaat bagi rekan-rekan pecinta organik, dan tidak lupa tulis komentar anda di kotak komentar dibawah ini.

-by maspary-

Selasa, 29 Juni 2010

PESTISIDA ORGANIK/ NABATI (NIMBA SEBAGAI PENGENDALI HAMA NEMATODA, ULAT, JAMUR DAN BAKTERI)

nimba 2 Salam pertanian! Biji dan daun nimba mengandung bahan aktif azadirachtin, salanin, nimbinen dan meliantriol. Pestisida nabati yang dihasilkan dari daun nimba sangat efektif untuk mengendalikan hama ulat, hama penghisap dan nematoda puru akar. Selain itu nimba juga berfungsi untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh jamur fusarium dan sclerotium serta bakteri.

Tehnik cara pembuatan pestisida nabati dari biji nimba adalah sebagai berikut:

  1. Tumbuk sampai halus 200-300 gr biji nimba
  2. Rendam dalam 10 lt air selama semalam
  3. Saring larutan tersebut dengan kain
  4. Larutan siap disemprotkan ke tanaman

Tehnik cara pembuatan pestisida nabati dari daun nimba adalah sebagai berikut:

  1. Tumbuk halus 1 kg daun nimba kering/ daun nimba segar
  2. Rendam hasil tumbukan tersebut selama semalam
  3. Saring dengan kain larutan tersebut
  4. Larutan siap disemprotkan

Serbuk daun dan biji nimba kering juga sangat efektif digunakan untuk mengendalikan nematoda puru akar pada tanaman tembakau. Cara penggunaannya adalah dengan cara menaburkan 15-30 gr serbuk daun nimba/ 5-10 gr serbuk biji nimba pada lubang tanam tembakau.

-by maspary-

Senin, 28 Juni 2010

BEBERAPA BAHAN PESTISIDA ORGANIK/ NABATI DAN CARA KERJANYA

tangan asem Salam pertanian. Kembali tentang pestisida nabati/ pestisida organik. Banyak sekali limbah organik/ bahan-bahan organik disekitar kita yang dapat kita manfaatkan sebagai pestisida nabati. Dibawah ini sedikit paparan tentang bahan-bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida organik/ nabati, kandungan racunnya dan organisme pengganggu tanaman yang dapat dikendalikan oleh tanaman tersebut:

Berikut contoh pembuatan pestisida organik/ nabati untuk menghilangkan hama kutu dan ulat pada tanaman :

Bahan:

  • Tembakau 100gr
  • Kenikir 100gr
  • Pandan 100gr
  • Kemangi 100gr
  • Cabe rawit 100gr
  • Kunyit 100 gr
  • Bawang Putih 100gr
  • Aquadestilata 1 lt
  • Decomposer (mikro organisme pengurai) 1-2 cc
  • Gula pasir 2 sendok makan.

Cara Pembuatan :

  • Semua bahan di blender dan di tambah 1lt air suling
  • Masukkan ke dalam botol yang steril
  • Tambahkan gula pasir 2 sdm
  • Tambahkan Decomposer 1-2 cc
  • Tutup dan biarkan 1 minggu supaya terjadi fermentasi
  • Kemudian di saring.
  • Siap dipergunakan

Pengaplikasian /dosis pemakaian:

  • 60 cc untuk 1 lt air
  • Disemprotkan ke tanaman yang terkena hama pada daun dan batangnya
  • 1 minggu 1 kali
  • Pencairan 1lt harus habis 1kali pemakaian.

-by maspary-

Sabtu, 26 Juni 2010

CARA KERJA DAN PEMBUATAN PESTISIDA ORGANIK/ NABATI

pest nabati Salam pertanian! Petani selama ini tergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Saya yakin banyak petani yang enggan menggunakan pestisida organik. Selain tidak praktis tapi juga daya kerjanya yang sangat lamban jika dibanding dengan pestisida kimia. Tapi kenapa para pakar pertanian termasuk pemerintah selalu menganjurkan petani agar menggunakan pestisida organik. Dianjurkannya menggunakan pestisida organik tersebut dikarenakan beberapa kelemahan-kelemahan yang ada pada pestisida kimia. Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia antara lain:

  1. Hama menjadi kebal (resisten)
  2. Peledakan hama sekunder (resurjensi)
  3. Timbulnya hama baru
  4. Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen
  5. Terbunuhnya musuh alami
  6. Pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia
  7. Kecelakaan bagi pengguna
  8. Timbulnya gangguan kesehatan bagi manusia
Kira-kira sudah berapa lama petani menggunakan pestisida kimia ini? Jadi bisa dibayangkan sendiri akibatnya bagi tanah pertanian di Indonesia.

Pestisida Organik memiliki beberapa fungsi, antara lain:

  1. Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal: dengan bau yang menyengat
  2. Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot.
  3. Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa
  4. Menghambat reproduksi serangga betina
  5. Racun syaraf
  6. Mengacaukan sistem hormone di dalam tubuh serangga
  7. Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga
  8. Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri (patogen)
  9. Menghambat pergantian kulit serangga
  10. Mengganggu komunikasi serangga
  11. Memblokir kemampuan makan serangga

Bahan dan Cara Umum Pengolahan Pestisida Organik

  • Bahan mentah berbentuk tepung (nimbi, kunyit, dll)
  • Ekstrak tanaman/resin dengan mengambil cairan metabolit sekunder dari bagian tanaman tertentu
  • Bagian tanaman dibakar untuk diambil abunya dan dipakai sebagai insektisida (serai, tembelekan/Lantana camara)

Contoh beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida Organik :

MIMBA (Azadirachta indica)


Bahan Pestisida Organik ini mengandung senyawa aktif azadirachtin, meliantriol, dan salanin. Berbentuk tepung dari daun atau cairan minyak dari biji/buah. Efektif mencegah makan (antifeedant) bagi serangga dan mencegah serangga mendekati tanaman (repellent) dan bersifat sistemik. Mimba dapat membuat serangga mandul, karena dapat mengganggu produksi hormone dan pertumbuhan serangga.

Mimba mempunyai spectrum yang luas, efektif untuk mengendalikan serangga bertubuh lunak (200 spesies) antara lainL belalang, thrips, ulat, kupu-kupu putih, dll. Disamping itu dapat juga untuk mengendalikan jamur (fungisida) pada tahap preventif, menyebabkan spora jamur gagal berkecambah. Jamur yang dikendalikan antara lain penyebab: embun tepung, penyakit busuk, cacar daun/kudis, karat daun dan bercak daun. Dan mencegah bakteri pada embun tepung (powdery mildew). Ekstrak mimba sebaiknya disemprotkan pada tahap awal dari perkembangan serangga, disemprotkan pada dun, disiramkan pada akar agar bisa diserap tanaman dan untuk mengendalikan serangga di dalam tanah.

AKAR TUBA (Deris eliptica)


Senyawa yang telah ditemukan antara lain adalah retenon. Retenon dapat diekstrak menggunakan eter/aseton menghasilkan 2 � 4 % resin rotenone, dibuat menjadi konsentrat air. Rotenon bekerja sebagai racun sel yang sangat kuat (insektisida) dan sebagai antifeedant yang menyebabkan serangga berhenti makan. Kematian serangga terjadi beberapa jam sampai beberapa hari setelah terkenal rotenone. Rotenon dapat dicampur dengan piretrin/belerang. Rotenon adalah racun kontak (tidak sistemik) berpspektrum luas dan sebagai racun perut. Rotenon dapat digunakan sebagai moluskisida (untuk moluska), insektisida (untuk serangga) dan akarisida (tungau).

TEMBAKAU


Tembakau sebagai Pestisida Organik karena senyawa yang dikandung adalah nikotin. Ternyata nikotin ini tidak hanya racun untuk manusia, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk racun serangga Daun tembakau kering mengandung 2 � 8 % nikotin. Nikotin merupakan racun syaraf yang bereaksi cepat. Nikotin berperan sebagai racun kontak bagi serangga seperti: ulat perusak daun, aphids, triphs, dan pengendali jamur (fungisida).

-BY MASPARY-

Rabu, 23 Juni 2010

PESTISIDA NABATI / ORGANIK (DAUN TEMBAKAU MENGENDALIKAN HAMA PENGHISAP)

DAUN TEMBAKAU Salam pertanian! Anda seorang perokok? pasti sudah tidak asing lagi dengan tembakau. Daun tembakau mengandung bahan aktif nikotin. Pestisida nabati yang dihasilkan dari daun tembakau efektif untuk mengendalikan hama penghisap pada tanaman. Adapun cara pembuatan pestisida nabati dari daun tembakau adalah sebagai berikut:

  1. Rajang/ haluskan 250 gr daun tembakau
  2. Rendam dalam 8 liter air selama semalam
  3. Saring larutan tersebut
  4. Tambahkan 2 sendok makan detergen dalam larutan tersebut
  5. Larutan siap digunakan dan disemprotkan ketanaman yang terserang hama penghisap tersebut.

Mudah bukan? selamat mencoba dan semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi anda.

-by maspary-

Minggu, 20 Juni 2010

PESTISIDA NABATI / ORGANIK (DAUN SIRSAK MENGENDALIKAN HAMA TRIPS, WERENG COKLAT, BELALANG DAN ULAT)

DAUN SIRSAK Salam pertanian! Daun sirsak mengandung bahan aktif annonain dan resin. Pestisida nabati daun sirsak efektif mengendalikan hama trips. Jika ditambahkan daun tembakau daun sirsak akan efektif mengendalikan hama belalang dan ulat. Sedangkan jika ditambahkan jeringau dan bawang putih akan efektif mengendalikan hama wereng coklat.

Rimpang jeringau mengandung bahan aktif arosone, kalomenol, kalomen, kalameone, metil eugenol yang jika dikombinasi dengan bahan aktif daun sirsak akan efektif mengendalikan hama wereng. Sedangkan tembakau mengandung bahan aktif nikotin yang jika dikombinasi dengan bahan aktif yang terkandung dalam daun sirsak akan efektf mengendalikan hama ulat dan belalang.

Cara pembuatan pestisida nabati daun sirsak sebagai pengendali hama trips:

  1. Tumbuk 100 lembar daun sirsak
  2. Rendam dalam 5 liter air dan tambahkan 15 gr detergen
  3. Diamkan sehari semalam
  4. Saring larutan tersebut dengan kain
  5. Encerkan setiap liter larutan dalam 10 liter air
  6. Larutan semprot siap digunakan

Cara pembuatan pestisida nabati daun sirsak + jeringau + bawang putih untuk mengendalikan hama wereng coklat:

  1. Tumbuk halus segenggam daun sirsak, segenggam jeringau dan 20 siung bawang putih
  2. Rendam bahan-bahan tersebut dengan 20 liter air yang telah ditambahkan 20 gr detergen selama 2 hari.
  3. Saring larutan tersebut dengan kain
  4. Larutan tersebut siap digunakan

Cara pembuatan pestisida nabati daun sirsak + daun tembakau untuk mengendalikan hama belalang dan ulat:

  1. 50 lembar daun sirsak dan segenggam daun tembakau ditumbuk sampai halus
  2. Rendam bahan�bahan tersebut dalam 20 lt air yang telah diberi 20 gr detergen selama semalam
  3. Saring larutan tersebut dengan kain
  4. Larutan siap digunakan dan disemprotkan ke tanaman

-by maspary-

Rabu, 16 Juni 2010

PESTISIDA NABATI (DAUN PEPAYA PENGENDALI HAMA ULAT DAN PENGHISAP)

daun pepaya Dalam beberapa topik yang lalu kita telah membahas tentang pestisida nabati untuk mengendalikan hama tikus, kali ini kita akan kembali membahas tentang pestisida nabati. Yaitu tentang manfaat daun pepaya sebagai pengendali hama ulat dan penghisap tanaman. Memang ragam dan cara pembuatan pestisida nabati sangat banyak sehingga hal ini akan sangat memudahkan kita untuk memilih salah satunya untuk kita buat dan kita aplikasikan.

Dasar pembuatan pestisida nabati dari daun pepaya ini berdasarkan pengamatan penulis terhadap tanaman pepaya yang berada di sekitar rumah. Dari pengamatan tersebut ternyata hampir tidak ada daun pepaya yang rusak akibat serangan ulat maupun hama lain. Dapat simpulkan bahwa daun pepaya mengandung zat yang membuat ulat atau hama lain tidak menyukainya. Untuk pembuatan pestisida nabati tersebut caranya sebagai berikut.

Alat dan bahan:

  1. Daun pepaya 1 kg
  2. Air 10 lt
  3. 2 sendok makan minyak tanah
  4. 30 gr detergen
  5. Saringan dari kain
  6. Ember

Cara Membuat dan Aplikasi:

  1. Daun pepaya dipotong-potong lembut atau dihaluskan
  2. Semua bahan dicampur kemudian direndam selama 1 malam
  3. Esok pagi larutan tersebut saring dengan kain halus
  4. Cairan tersebut siap disemprotkan ke tanaman

-by maspary-

Senin, 14 Juni 2010

PESTISIDA NABATI (MEMANDULKAN TIKUS DENGAN GADUNG)

umbi gadung Salam pertanian! Ada sedikit informasi bagi para petani maupun para penyuluh pertanian tentang mengendalikan hama tikus. Kali ini kita akan membahas tentang pembuatan pestisida nabati untuk memandulkan tikus betina. Hal ini saya sampaikan sebagai alternatif dari beberapa pengendalian hama tikus yang sangat menggelisahkan petani kita.

Bahan-bahan:

  1. Gadung 1 Kg
  2. Dedak padi/ jagung 1 kg
  3. Tepung ikan 1 ons
  4. Kemiri 5-10 butir
  5. Air secukupnya

Alat-alat:

  1. Penumbuk/ parut/ blender
  2. Ember
  3. Pengaduk

Cara membuat:

  1. Umbi gadung dikupas lalu dihaluskan dengan blender/ penumbuk/ parut bersama kemiri
  2. Campur dengan bahan-bahan lain kemudian campur air secukupnya
  3. Bentuk menjadi bola-bola kecil kurang lebih 10 gr, jika dibentuk bola pecah tambahkan sedikit air lagi
  4. Jemur sampai kering
  5. Umpankan bola-bola tadi pada tikus dengan cara meletakkan pada daerah sekitar lubang tikus
  6. Jika tikus betina makan umpan tersebut, dia tidak akan mati tapi akan mandul

-by maspary-