Kamis, 01 Juli 2010

JAMBU BIJI UNTUK PENGOBATAN DEMAM BERDARAH DAN DIARE


jambu biji Nama Latin : Psidium guajava
Common name : Guava

KANDUNGAN ZAT AKTIF JAMBU BIJI
Tanin, quersetin, glikosida quersetin, flavonoid, minyak atsiri, asam ursolat, asam psidiolat,
asam kratogolat, asam oleanolat, asam guajaverin, vitamin.


MEKANISME KERJA

  1. Tanin dan flavonoid yang dinyatakan sebagai quersetin dalam ekstrak daun jambu biji dapat menghambat aktivitas enzim reverse transkriptase, yang berarti khasiat untuk mengatasi penyakit demam dengan menghambat pertumbuhan virus berinti RNA. Bahan itu juga disebutkan mampu meningkatkan jumlah trombosit hingga 100 ribu milimeter per kubik tanpa efek samping.
  2. Quersetin dan glikosida quersetin yang dapat menghambat kontraksi spontan ileum dan sekresi asetilkolin lambung penyebab diare, sehingga diare dapat teratasi dengan cepat.
  3. Tanin bersifat sebagai astringent, yaitu melapisi mukosa usus, khususnya usus besar. Serta sebagai penyerap racun dan dapat menggumpalkan protein.


HASIL PENELITIAN

  1. Nasirudin, Soegeng Soegijanto, Bagian Ilmu Kesehatan Fakultas Kedokteran UNAIR. Ekstrak daun jambu biji dapat mempercepat pencapaian jumlah trombosit lebih dari 100.000/?l dan dapat meningkatkan jumlah trombosit pada penderita demam berdarah dengue pada anak.
  2. Iman subagyo, wahyo Dyatmiko dan Abdul karim UNAIR, 1981. Secara invitro
    infus daun jambu biji dengan bermacam-macam kepekatan menunjukkan perbedaan yang nyata pada diameter daerah hambatan, pertumbuhan kuman Shigella Flexneri dan Shigella sonnei sebagai penyebab desentri basiler.


KHASIAT & KEGUNAAN JAMBU BIJI :
- Membantu meningkatkan trombosit pada penderita demam berdarah.
- Membantu menghentikan diare.



DEMAM BERDARAH
Demam Berdarah adalah penyakit infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus dengue yang diakibatkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Virus Demam Berdarah berada pada aliran darah selama 4-7 hari, dimulai pada 1-2 hari sebelum timbulnya panas. Dengan adanya virus dalam tubuh membuat dinding pembuluh darah bocor. Akibatbya darah tak terbendung dan terus- menerus merembes dari pembuluh darah kemudian memasuki jaringan.


GEJALA DEMAM BERDARAH
Demam tinggi, pusing, sakit pada persendian dan otot
Hilangnya nafsu makan, muntah lemah dan lesu.
Setelah 3 hari biasanya timbul bintik-bintik merah pada kulit.
Pendarahan pada hidung.
Penurunan junlah trombosit, terjadi tergantung tingkat keparahannya.

Bila jumlah trombositnya kurang dari 60.000, pasien mempunyai risiko terjadinya perdarahan. Kurang dari 20.000 risikonya berupa perdarahan tiba-tiba. Lebih rendah dari 5.000 risikonya paling tinggi, yakni perdarahan otak. Fungsi trombosit di dalam tubuh sangat penting, yakni menghentikan perdarahan akibat pecahnya pembuluh kapiler.

PERHATIAN
Pemberian JAMBU BIJI pada pasien demam berdarah tidak menyebabkan efek samping
yang berarti, misalnya sembelit. Sebaiknya pemberian jambu biji untuk penderita demam berdarah dalam bentuk juice jambu biji.


DIARE
Diare merupakan gejala infeksi saluran pencernaan yang ditandai dengan bertambahnya
frekuensi buang air besar lebih dari biasanya, disertai perubahan bentuk dan
konsistensi tinja.


PENYEBAB DIARE

  1. Infeksi kuman, berupa parasit, bakteri, atau entero virus (virus yang hidup dan
    berkembang dalam saluran pencernaan dan menyebar bersama feses).
  2. Keracunan makanan, misalnya tercemar Clostridium botulinum
  3. Pemakaian obat-obatan (seperti antibiotic)
  4. Penyebab tidak pasti (radang usus halus dan usus besar)


TIPS UNTUK PENDERITA DIARE
Penderita harus minum oralit.
Bila dalam 3 hari mengkonsumsi daun jambu biji + garam + kunyit + sedikit kapur sirih tidak sembuh, segera hubungi dokter.



REFERENSI
1. Anonim, 2000, Acuan Sediaan Herbal, Departemen Kesehatan RI
2.
http://warintek.bantul.go.id/web.php?mod=basisdata&kat=1&sub=2&file=43
3. Anonim, Materia Medika Indonesia jilid 1, 1977, hal 90
4. Lily M Perry, 1980, Medicinal Plants of East and Southeast Asia, Inggris : The MIT
Press London.
5. Deni Bown, 2001, New Encyclopedia of Herbs & Their Uses, Dorling Kindersley.
6. Soegeng Soegijanto, 2006, Demam Berdarah Dengue, Edisi 2, Airlangga University
Press.
Product Knowledge/PT. Industri Jamu Borobudur/Produk Tunggal/Jambu Biji 3
7.
http://www.ciat.cgiar.org/ipgri/fruits_from_americas/frutales/Ficha%20Psidium
%20guajava.htm
8.
http://www.hort.purdue.edu/newcrop/morton/guava.html#Food%20Uses

-BY MASPARY-

Rabu, 30 Juni 2010

BUDIDAYA TANAMAN GARUT SECARA INSENTIF

tan garut Salam pertanian. Pada dasarnya tanaman garut (Maranta arundinacea L) merupakan tanaman liar yang mudah tumbuh dimana saja asalkan lembab tetapi panas. Namun untuk produksi yang bagus diperlukan persyaratan tumbuh sebagai berikut:

  1. Tinggi tempat : 60-90 dpl
  2. Suhu ideal : 22-32 C
  3. Sinar matahari : rendah & perlu naungan
  4. Kelembaban udara: 50-85%
  5. Curah hujan : 1500-200 mm/th
  6. Tanah : Gembur, kaya humus drainase baik
  7. pH tanah : 4,5-8

I. PEMBIBITAN

>> Perbanyakan Dengan Umbi

  1. Sediakan umbi garut yang telah berumur 12 bulan
  2. Pilih yang bagus, mulus dan bebas hama penyakit
  3. Cuci sampai bersih lalu angin-anginkan sampai kulitnya mengelupas
  4. Potong umbi tersebut setiap 2-4 tunas untuk stek
  5. Rendam stek tersebut dalam larutan fungisida, insektisida dan ZPT
  6. Setelah 5 menit Setek siap disemai
  7. Siapkan lahan pesemaian dengan menggemburkan tanah, kemudian dibentuk bedeng dengan ukuran 2 m X 20 m dengan tinggi 20-30 cm. (untuk 1 Ha lahan)
  8. Bedengan diberi pupuk kandang secukupnya lalu digarit sedalam 3 cm
  9. Masukkan stek kelubang garit dengan mata tunas menghadap ke atas, lalu tutup dengan tanah sampai tak terlihat
  10. Pelihara pesemaian dengan penyiraman dan aplikasi pestisida
  11. Setelah pesemaian berumur 20-30 hss (sudah terbentuk 3-5 daun) siap ditanam dilahan.

>> Perbanyakan dengan anakan

  1. Rumpun garut yang telah berumur 4-5 bulan atau memiliki lebih dari 3 anakan siap dipisahkan dan ditanam
  2. Anakan garut yang tumbuh setelah garut dipanen dipotong dan sibersihkan lalu bisa ditanam

II. PERSIAPAN LAHAN

  1. Lahan dibajak/ dicangkul sampai gembur dengan kedalaman 20-30 cm
  2. Bentuk bedengan dengan lebar 1 m X 10 m dengan tinggi 20-30 cm
  3. Buat lubang tanam dengan kedalaman 8-15 cm dengan jarak tanam antar lubang (30-40 cm) X (50-75 cm)

III. PENYIAPAN TANAMAN NAUNGAN

  1. Jenis tanaman naungan yang baik adalah tanaman yang berakar lunak seperti pisang, pepaya dll dengan jarak tanam 3 X 3 m
  2. Bisa juga penggunakan tanaman keras dengan jarak tanam diatur supaya tidak mengganggu tanaman garut tersebut

IV. PENANAMAN

  1. Sebaikknya dilakukan awal musim hujan
  2. Bibit dari pesemaian ditanam tegak satu lobang satu bibit
  3. Jika bibit diambil dari anakan kurangi daunnya untuk mengurangi penguapan

V. PEMUPUKAN

  1. Pemupukan diberikan 3 X yaitu pertama saat tanam (Urea 100 kg/ ha dan SP36 400 kg/ha)
  2. Pemupukan kedua diberikan saat tanaman berumur 3,5 bulan dengan dosis (Urea 100 kg/ha dan KCL 200 kg/ha)
  3. Pemupukan ketiga diberikan saat tanaman berumur 5 bulan dengan dosis (Urea 100 kg/ha dan KCL 150 kg/ha)
  4. Cara pemberian pupuk dilakukan dengan pencampuran pupuk lalu disebar dialur pembubunan tanaman.

VI. PEMELIHARAAN TANAMAN

  1. Usahakan pengairan lancar sehingga lahan tidak tergenang
  2. Penyiangan dan pembubunan dilakukan saat tanaman umur 3-4 bulan
  3. Mengendalikan hama ulat penggulung daun dan penyakit akar dengan pestisida

VII. PANEN

  1. Tanaman garut dapat dipanen 2 periode yaitu saat berumur 6-7 bulan jika mau diolah menjadi keripik atau emping karena masa ini garut belum banyak seratnya. Yang kedua saat berumur 8-12 bulan jika mau diambil patinya, usahakan saat panen musim kering supaya rendemen patinya tinggi.
  2. Sediakan lubang 1m X 1m X1m pada ujung guludan
  3. Bongkar tanaman dengan menggunakan alat garpu atau yang lain
  4. Bersihkan umbi dari tanah, batang dan daun
  5. Sisakan anakan untuk bibit dan biarkan 6-12 bulan bisa dipanen lagi, demikian seterusnya sampai siklus 5-7 kali (5-7 tahun)
  6. Masukkan batang dan daun kedalam lubang tersebut dan tutup jadikan kompos
  7. Produksi rata-rata 12,5-30 ton/ ha/th
  8. Varietas banana mengandung kadar air tinggi dan tahan hanya 2 hari setelah panen sedangkan varietan Creol dapat bertahan 1 minggu karena seratnya tinggi.

-by maspary-

Selasa, 29 Juni 2010

PESTISIDA ORGANIK/ NABATI (NIMBA SEBAGAI PENGENDALI HAMA NEMATODA, ULAT, JAMUR DAN BAKTERI)

nimba 2 Salam pertanian! Biji dan daun nimba mengandung bahan aktif azadirachtin, salanin, nimbinen dan meliantriol. Pestisida nabati yang dihasilkan dari daun nimba sangat efektif untuk mengendalikan hama ulat, hama penghisap dan nematoda puru akar. Selain itu nimba juga berfungsi untuk mengendalikan penyakit yang disebabkan oleh jamur fusarium dan sclerotium serta bakteri.

Tehnik cara pembuatan pestisida nabati dari biji nimba adalah sebagai berikut:

  1. Tumbuk sampai halus 200-300 gr biji nimba
  2. Rendam dalam 10 lt air selama semalam
  3. Saring larutan tersebut dengan kain
  4. Larutan siap disemprotkan ke tanaman

Tehnik cara pembuatan pestisida nabati dari daun nimba adalah sebagai berikut:

  1. Tumbuk halus 1 kg daun nimba kering/ daun nimba segar
  2. Rendam hasil tumbukan tersebut selama semalam
  3. Saring dengan kain larutan tersebut
  4. Larutan siap disemprotkan

Serbuk daun dan biji nimba kering juga sangat efektif digunakan untuk mengendalikan nematoda puru akar pada tanaman tembakau. Cara penggunaannya adalah dengan cara menaburkan 15-30 gr serbuk daun nimba/ 5-10 gr serbuk biji nimba pada lubang tanam tembakau.

-by maspary-

Senin, 28 Juni 2010

BEBERAPA BAHAN PESTISIDA ORGANIK/ NABATI DAN CARA KERJANYA

tangan asem Salam pertanian. Kembali tentang pestisida nabati/ pestisida organik. Banyak sekali limbah organik/ bahan-bahan organik disekitar kita yang dapat kita manfaatkan sebagai pestisida nabati. Dibawah ini sedikit paparan tentang bahan-bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida organik/ nabati, kandungan racunnya dan organisme pengganggu tanaman yang dapat dikendalikan oleh tanaman tersebut:

Berikut contoh pembuatan pestisida organik/ nabati untuk menghilangkan hama kutu dan ulat pada tanaman :

Bahan:

  • Tembakau 100gr
  • Kenikir 100gr
  • Pandan 100gr
  • Kemangi 100gr
  • Cabe rawit 100gr
  • Kunyit 100 gr
  • Bawang Putih 100gr
  • Aquadestilata 1 lt
  • Decomposer (mikro organisme pengurai) 1-2 cc
  • Gula pasir 2 sendok makan.

Cara Pembuatan :

  • Semua bahan di blender dan di tambah 1lt air suling
  • Masukkan ke dalam botol yang steril
  • Tambahkan gula pasir 2 sdm
  • Tambahkan Decomposer 1-2 cc
  • Tutup dan biarkan 1 minggu supaya terjadi fermentasi
  • Kemudian di saring.
  • Siap dipergunakan

Pengaplikasian /dosis pemakaian:

  • 60 cc untuk 1 lt air
  • Disemprotkan ke tanaman yang terkena hama pada daun dan batangnya
  • 1 minggu 1 kali
  • Pencairan 1lt harus habis 1kali pemakaian.

-by maspary-

Minggu, 27 Juni 2010

MENGATASI PENYAKIT TANAH ASEM-ASEMEN PADA PADI SAWAH

tanah sawah Salam pertanian. Pengetahuan penyakit dan hama bagi petani padi pada umumnya masih rancu, mereka belum terbiasa membedakan antara hama dan penyakit. Penyakit pada tanaman padi bisa ditimbulkan oleh beberapa sebab diantaranya adalah oleh jamur, virus, bakteri dan keadaan tanah. Untuk yang disebutkan terakhir ini bagi petani masih menjadi PR masalah yang belum terselesaikan dan perlu segera diketahui solusi penyelesaian masalah tersebut.

Fenomena penyakit tanah asem-asemen pada padi sawah biasa terjadi hampir tiap tahun. Penyakit ini akan menyerang tanaman padi saat musim tanam II, yaitu sekitar bulan Maret-April. Tanaman padi yang terkena asem-asemen akan menunjukkan gejala yang spesifik yaitu tanaman padi yang telah ditanam tidak akan mau tumbuh bahkan terlihat kuning dan akan mati. Jika tanaman padi muda tersebut di pupuk menggunakan urea gejala akan semakin terlihat parah. Penyakit ini biasanya akan diperparah oleh serangan hama (penggerek batang) sundep pada saat tanaman muda.

Beberapa informasi menyatakan bahwa penyakit asem-asemen pada padi sawah disebabkan oleh adanya proses perombakan sisa-sisa tanaman padi oleh mikro organisme yang belum selesai pada tanah tersebut. Pada proses tersebut akan menghasilkan panas pada tanah sawah tersebut. Selain itu pada proses perombakan tersebut akan menyebabkan menurunnya pH tanah sehingga tanah akan cenderung asam sehingga tanah tersebut dikatakan asem-asemen (berasal dari kata buah asem yang rasanya sangat masam)

Terlepas benar atau salah dugaan penyebab tanah asem-asemen tersebut akhirnya diluncurkan beberapa solusi penyelesaian masalah tersebut. Diantaranya adalah

  1. Dengan cara pemberian kapur pada tanah tersebut. Dengen pemberian kapur diharapkan tanah akan didongkrak ph-nya sehingga akan sesuai dengan kondisi yang diharapkan tanaman padi untuk pertumbuhannya.
  2. Menunda waktu tanam. Dengan penundaan waktu tanam diharapkan proses perombakan sisa-sisa tanaman padi oleh mikro organisme akan terseselaikan terlebih dahulu. Namun solusi ini akan menghambat ketepatan waktu tanam.
  3. Pemberian Za pada tanah tersebut. Solusi Ini hanyalah merupakan pengalaman petani saja, secara teori dengan pemberian Za justru akan membuat tanah semakin asam.

Dari ketiga cara penyelesaian masalah yang disajikan tersebut belum ada solusi yang dapat menjamin terselesaikannya masalah tersebut 100%. Dari hasil uji coba dilapangan oleh petani pemberian kapur dan pemberian Za akan menyelesaiakan masalah namun bersifat kadang-kadang. Maksudnya kadang berhasil dan terkadang tidak berhasil.

Oleh karena beberapa hal diatas maka masih perlu diadakan kajian dan penelitian lebih lanjut tentang cara mengatasi permasalan tanah asem-asemen diatas. Mungkin dari para pembaca blog gerbang pertanian ada yang mempunyai solusi dan pengalaman penyelesaian masalah tersebut kami harapkan bisa membantu memberikan informasinya lewat kolom komentar. Tentunya solusi tersebut sangat ditunggu dan diharapkan oleh ribuan petani padi di Indonesia. Inilah PR bagi kita yang sangat bermanfaat bagi petani .

-maspary-

Sabtu, 26 Juni 2010

CARA KERJA DAN PEMBUATAN PESTISIDA ORGANIK/ NABATI

pest nabati Salam pertanian! Petani selama ini tergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Saya yakin banyak petani yang enggan menggunakan pestisida organik. Selain tidak praktis tapi juga daya kerjanya yang sangat lamban jika dibanding dengan pestisida kimia. Tapi kenapa para pakar pertanian termasuk pemerintah selalu menganjurkan petani agar menggunakan pestisida organik. Dianjurkannya menggunakan pestisida organik tersebut dikarenakan beberapa kelemahan-kelemahan yang ada pada pestisida kimia. Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia antara lain:

  1. Hama menjadi kebal (resisten)
  2. Peledakan hama sekunder (resurjensi)
  3. Timbulnya hama baru
  4. Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen
  5. Terbunuhnya musuh alami
  6. Pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia
  7. Kecelakaan bagi pengguna
  8. Timbulnya gangguan kesehatan bagi manusia
Kira-kira sudah berapa lama petani menggunakan pestisida kimia ini? Jadi bisa dibayangkan sendiri akibatnya bagi tanah pertanian di Indonesia.

Pestisida Organik memiliki beberapa fungsi, antara lain:

  1. Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal: dengan bau yang menyengat
  2. Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot.
  3. Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa
  4. Menghambat reproduksi serangga betina
  5. Racun syaraf
  6. Mengacaukan sistem hormone di dalam tubuh serangga
  7. Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga
  8. Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri (patogen)
  9. Menghambat pergantian kulit serangga
  10. Mengganggu komunikasi serangga
  11. Memblokir kemampuan makan serangga

Bahan dan Cara Umum Pengolahan Pestisida Organik

  • Bahan mentah berbentuk tepung (nimbi, kunyit, dll)
  • Ekstrak tanaman/resin dengan mengambil cairan metabolit sekunder dari bagian tanaman tertentu
  • Bagian tanaman dibakar untuk diambil abunya dan dipakai sebagai insektisida (serai, tembelekan/Lantana camara)

Contoh beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pestisida Organik :

MIMBA (Azadirachta indica)


Bahan Pestisida Organik ini mengandung senyawa aktif azadirachtin, meliantriol, dan salanin. Berbentuk tepung dari daun atau cairan minyak dari biji/buah. Efektif mencegah makan (antifeedant) bagi serangga dan mencegah serangga mendekati tanaman (repellent) dan bersifat sistemik. Mimba dapat membuat serangga mandul, karena dapat mengganggu produksi hormone dan pertumbuhan serangga.

Mimba mempunyai spectrum yang luas, efektif untuk mengendalikan serangga bertubuh lunak (200 spesies) antara lainL belalang, thrips, ulat, kupu-kupu putih, dll. Disamping itu dapat juga untuk mengendalikan jamur (fungisida) pada tahap preventif, menyebabkan spora jamur gagal berkecambah. Jamur yang dikendalikan antara lain penyebab: embun tepung, penyakit busuk, cacar daun/kudis, karat daun dan bercak daun. Dan mencegah bakteri pada embun tepung (powdery mildew). Ekstrak mimba sebaiknya disemprotkan pada tahap awal dari perkembangan serangga, disemprotkan pada dun, disiramkan pada akar agar bisa diserap tanaman dan untuk mengendalikan serangga di dalam tanah.

AKAR TUBA (Deris eliptica)


Senyawa yang telah ditemukan antara lain adalah retenon. Retenon dapat diekstrak menggunakan eter/aseton menghasilkan 2 � 4 % resin rotenone, dibuat menjadi konsentrat air. Rotenon bekerja sebagai racun sel yang sangat kuat (insektisida) dan sebagai antifeedant yang menyebabkan serangga berhenti makan. Kematian serangga terjadi beberapa jam sampai beberapa hari setelah terkenal rotenone. Rotenon dapat dicampur dengan piretrin/belerang. Rotenon adalah racun kontak (tidak sistemik) berpspektrum luas dan sebagai racun perut. Rotenon dapat digunakan sebagai moluskisida (untuk moluska), insektisida (untuk serangga) dan akarisida (tungau).

TEMBAKAU


Tembakau sebagai Pestisida Organik karena senyawa yang dikandung adalah nikotin. Ternyata nikotin ini tidak hanya racun untuk manusia, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk racun serangga Daun tembakau kering mengandung 2 � 8 % nikotin. Nikotin merupakan racun syaraf yang bereaksi cepat. Nikotin berperan sebagai racun kontak bagi serangga seperti: ulat perusak daun, aphids, triphs, dan pengendali jamur (fungisida).

-BY MASPARY-

Jumat, 25 Juni 2010

CARA SEDERHANA MEMBUAT NATA DE COCO

nata decoco Salam pertanian. Tanaman kelapa, tanaman yang serba guna. Hampir semua bagian dari tanaman kelapa dapat dimanfaatkan oleh manusia. Batang kelapa dapat dimanfaatkan untuk kayu bangunan. Bunga kelapa jika dipotong di tanamannya akan menghasilkan cairan bahan dasar gula merah. Kelapanya sangat bermanfaat sebagai bahan masakan. Air kelapanya bisa dimanfaatkan untuk membuat nata de coco. Ingin tahu cara pembuatan nata de coco?

Ikuti langkah-langkah berikut:

  1. Saring air kelapa dengan menggunakan kain saring lalu didihkan dan dinginkan.
  2. Campurkan gula pasir (100 g/l air kelapa), asam cuka 20 ml/l air kelapa dan bibit Acetobacter xylinum (170 ml) ke dalam air kelapa di dalam panci pencampur, lalu diaduk sampai merata. Campuran tersebut mempunyai
    keasaman (pH) 3-4.
  3. Masukkan campuran tersebut ke alam stoples dengan tinggi campuran 4-5 cm, lalu ditutup dengan kain aring. Letakkan stoples di tempat yang bersih dan aman.
  4. Setelah 15-20 hari berlangsungnya proses fermentasi terbentuklah lapisan nata di permukaan cairan dengan ketebalan 1-2 cm. Lapisan nata dengan berat + 200 g. Cairan dibawah nata merupakan cairan bibit yang dapat digunakan untuk pembuatan nata selanjutnya.


Tata cara Pemanenan:

  1. Lapisan nata diangkat secara hati-hati dengan menggunakan garpu atau penjepit yang bersih supaya cairan di
    bawah lapisan tidak tercemar. Cairan di bawah nata dapat digunakan sebagai cairan bibit pada pengolahan berikutnya.
  2. Buang selaput yang menempel pada bagian bawah nata, dicuci lalu dipotong dalam bentuk kubus dengan ukuran 1,5 x 1,5 x 1,5 cm dan dicuci. Tuang dan rendam potongan nata de coco dalam ember plastik selama 3 hari dan setiap hari air rendaman diganti. Sesudah itu, nata direbus sampai mendidih bersuhu 11 0C selama selama 10-20 menit. Tujuan perendaman dan perebusan untuk meng-hilangkan rasa asam.
  3. Nata dimasukkan dalam sirup lalu didihkan pada suhu 100 0C + 15 menit, sesudah itu bila perlu dapat ditambahkan essense panili atau pewangi lainnya dan garam secukupnya, lalu dibiarkan selama 1 malam. Buat sirup nata dengan perbandingan untuk 3 kg produk nata potongan, diperlukan 2 kg gula dan 4,5 l air. Mula-mula gula dituangkan ke dalam air, panaskan sampai larut dan lalu saring.
  4. Selanjutnya nata dikemas dalam kantong plastik atau botol selai dengan perbandingan antara padatan
    dan cairan 3:1, botol ditutup rapat, kemudian direbus dalam air mendidih selama 30 menit. Angkat dan dinginkan di udara dengan tutup terletak pada bagian bawah, slanjutnya botol diberi label dan siap untuk dipasarkan.

Pembuatan bibit nata

  1. Buah nenas dikupas, dicuci sehingga dihasilkan daging nenas. Daging nenas dipotong kecil-kecil, dihancurkan, dan diambil ampasnya.
  2. Ampas nenas dicampur dengan gula pasir dan air masak dengan perbandingan 6:1:3 sampai merata.
  3. Masukkan campuran tersebut dalam stoples bersih dan tutup dalam kain saring. Diamkan selama 2-3 minggu.
  4. Biarkan tanpa diganggu selama 2-3 minggu hingga terbentuk lapisan putih atau bibit Acetobacter xylinum.

-by maspary-