Rabu, 20 Juli 2011

TEHNIK KALIBRASI PESTISIDA

kalibrasi-pestisida Bagaimana kabar petani Indonesia? Semoga kesuksesan dan keberhasilan selalu menyertai anda semua. Kita jumpa lagi dengan Gerbang Pertanian dengan beberapa tips dan informasi tentang pertanian spesial untuk para petani Indonesia. Kali ini maspary ingin sedikit mengulas ilmu yang tidak begitu penting bagi para petani semua, tetapi artikel tentang tehnik kalibrasi pestisida ini mungkin penting untuk para mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah tentang aplikasi pestisida.

Kenapa saya bilang tidak penting? karena saya belum pernah melihat petani (dari jawa barat sampai jawa timur) yang menerapkan tehnik kalibrasi pestisida sebelum melakukan aplikasi pestisida pada lahannya. Bahkan banyak petani yang nggak tahu apa itu tehnik kalibrasi pestisida.

Tehnik kalibrasi pestisida dilakukan untuk mengkalibrasi/ mengestimasi atau memperkirakan kebutuhan larutan pestisida/ ZPT dan  pupuk daun yang diperlukan untuk diaplikasikan pada lahan kita. Jika kita mengetahui kebutuhan total air yang diperlukan untuk menyemprot (aplikasi) kita akan mudah menentukan konsentrasi pestisida/ ZPT atau pupuk daun yang akan kita gunakan. Hal ini sangat erat kaitanya dengan penggunaan pestisida yang ketentuan kebutuhannya menggunakan dosis bukan konsentrasi.

Masih ada yang bingung ya? Biasanya dalam petunjuk penggunaan pestisida ada 2 istilah yang digunakan untuk mengetahui jumlah kebutuhan pestisida:

  • Dosis adalah jumlah pestisida yang diperlukan dalam satuan luas, pohon, atau batang. Contoh : penggunaan POC merek A adalah 2 Liter/ hektar
  • Konsentrasi adalah jumlah pestisida yang diperlukan dalam satuan liter. Contoh: yang harus diaplikasikan POC merek A adalah 7 ml/ Liter air.

Para petani biasanya kurang sabar untuk melakukan kalibrasi pestisida atau mungkin mereka sudah sangat hafal kebutuhan larutan pestisida yang harus diaplikasikan ketanamannya. Misalnya petani sudah tahu butuh berapa tangki 14 liter untuk mengaplikasiakan pestisida untuk mengendalikan wereng pada tanaman umur 50 hst. Kebutuhan pestisida ini akan selalu berbeda sesuai dengan kebiasaan/ cara menyemprot,  jenis tanaman,  umur tanaman dan hama yang akan dikendalikan. Kebutuhan larutan untuk mengendalikan hama wereng jelas lebih banyak daripada hama walang sangit. Kebutukan larutan pestisida untuk menyemprot tanaman cabe jelas lebih banyak daripada tanaman kacang tanah. Penggunaan larutan pestisida untuk tanaman 1 minggu jelas lebih sedikit jika dibanding dengan tanaman umur 2 bulan.

.

Cara tehnik kalibrasi pestisida:

  1. Siapkan pengukur waktu (jam atau stopwatch)
  2. Siapkan tangki berisi air bersih dan pompa sampai penuh.
  3. Ukur lama waktu penyemprotan yang akan kita lakukan
  4. Lakukan penyemprotan pada satuan luas terkecil lahan kita (misalnya: 1 bedeng, 2 m persegi, 2 meter bedeng dll)
  5. Catat lama waktu penyemprotan satuan luas terkecil lahan kita,
  6. Lakukan lagi penyemprotan dengan jumlah waktu yang sama hanya saja tidak pada tanaman tetapi tampung  air tersebut dalam ember.
  7. Ukur berapa ml larutan tersebut
  8. Untuk mengetahui jumlah total larutan semprot, kalikan air yang anda tampung tadi dengan berapa kali luas lahan sample yang kita semprot tadi dibanding dengan  luas lahan kita . Kalau dirumuskan mungkin seperti ini:

          Vt  =  Vs  X  ( Lt : Ls)

          Keterangan :  - Vt : Kebutuhan Volume total untuk menyemprot suatu lahan

                              - Vs : Volume air hasil kalibrasi (yg ditampung di ember)

                              - Lt : Luas lahan total

                              - Ls : Luas lahan sample

Contoh aplikasi:

Sebuah POC harus diaplikasikan dengan dosis 2 liter/ hektar, berapa ml per tangki  harus kita aplikasikan? POC tersebut akan diaplikasikan ke tanaman padi umur 2 bulan.  Dengan contoh seperti itu kita harus mengetahui kebutuhan larutan pestisida yang kita perlukan untuk diaplikasikan pada tanaman kita. Sebagai contoh larutan yang kita perlukan untuk menyemprot padi umur 2 bulan dalam setiap hektar adalah 10 tangki 14 liter  .  Berarti kita memerlukan larutan semprot 140 liter untuk per hektarnya. Konsentrasi yang diperlukan adalah 2000 ml POC : 140 = 14, 28 ml POC/ liter air. Sehingga tiap tangki kita perlu memberi konsentrasi 14,28 X 14 = 200 ml POC tersebut. Atau lebih ringkasnya juga bisa dihitung dengan cara : 2000 ml POC : 10 Tangki semprot = 200 ml POC / tangki semprot.

Semoga artikel saya tersebut tidak membuat bingung pembaca Gerbang pertanian semua karena saya tidak pas dalam menjelaskannya. Harapan saya justru bisa menambah wawasan para pembaca semua bahkan bisa bermanfaat dan dapat diaplikasikan oleh para petani Indonesia. (maspary).

Jumat, 08 Juli 2011

DAWET IRENG DARI JERAMI PADI

dawet-ireng Salam Pertanian! Kalau kita berjalan-jalan di daerah Banyumas pasti kita akan banyak menjumpai banyak penjual dawet dipinggir jalan. Para penjual dawet tersebut banyak yang memberi label atau judul dawet hitam. Kali ini Gerbang Pertanian ingin membagi tips cara membuat dawet ireng.


BAHAN:

  1. 1 kg tepung ganyong;
  2. � tepung sagu;
  3. 1 genggam merang/batang padi;
  4. 2,5 lt air;
  5. 1 lt santan;
  6. 1 � 1 1/2 sdt garam
  7. es batu secukupnya

SIRUP GULA AREN:

  1. 500 gula aren;
  2. 250 gr gula pasir;
  3. 500 ml air;
  4. 2 daun pandan

CARA MEMBUAT:

  1. Sirup gula aren: rebus semua bahan hingga mendidih dan gula larut. Saring. Sisihkan;
  2. Santan: Campurkan santan dengan garam. Sisihkan;
  3. Larutkan tepung ganyong dan tepung sagu dengan 1.5 lt air hingga rata. Bila perlu saring dengan kain. Sisihkan;
  4. Bakar merang hingga jadi abu, rendam dengan 1 lt air. Aduk hingga berwarna hitam. Saring dengan kain; Rebus larutan merang hingga mendekati mendidih. Sebelum mendidih masukkan adonan sagu. Aduk-aduk hingga jadi seperti bubur. Aduk konstan hingga matang; Siapkan baskom berisi air dingin, dan saringan atau cetakan dawet.
  5. Panas-panas ambil bubur merang yang telah matang secukupnya. Taruh di cetakan, tekan dengan papan yang lebih kecil ukurannya dari diameter saringan. Biarkan bubur merang lolos lewat lubang-lubang kecil saringan tepat di air dingin. Lakukan hingga semua �tersaring�. Tiriskan;
  6. Penyajian: Ambil gelas saji, beri dawet hitam, es batu, tuangi santan dan sirup gula aren. Sajikan.

Jangan hanya kepingin, bikin dong! Mudah kan bikinnya. Semoga artikel ini bisa membantu para pembaca yang ingin membuat dawet ireng dari jerami padi dan para pembaca yang ingin berwiraswasta atau berjualan dawet ireng (maspary).

Selasa, 05 Juli 2011

ANALISA KANDUNGAN KOMPOS JERAMI PADI

jerami-padi Jumpa lagi dengan Gerbang Pertanian. Ada yang harus saya informasikan kepada para petani padi Indonesia. Yaitu tentang analisa kandungan kompos jerami padi. Kompos jerami padi memiliki potensi hara yang sangat tinggi yang harus dimanfaatkan para petani Indonesia. Berikut ini hasil analisa kompos jerami padi yang dibuat dengan promi dengan waktu pengomposan 3 minggu:

Rasio C/N 18,88
C 35,11%
N 1,86%
P2O5 0,21%
K2O 5,35%
Air 55%

Dari data di atas, per ton kompos jerami padi memiliki kandungan hara setara dengan 41,3kg urea, 5,8 kg SP36, dan 89,17kg KCl atau total 136,27 kg NPK .

Menurut Kim and Dale (2004) potensi jerami kurang lebih adalah 1,4 kali dari hasil panennya. Jadi kalau panennya  (GKG) sekitar 6 ton per ha, jeraminya tinggal dikali dengan 1,4 yaitu 8,4 ton jerami per ha. Jika jerami ini dibuat kompos dan rendemen komposnya adalah 60%, maka dalam satu ha sawah dapat dihasilkan 5,04 ton kompos jerami padi. 

Berarti dalam satu ha sawah akan menghasilkan 208,15 kg urea, 29,23 kg SP36, 449,42 KCl atau total 686,80 NPK dari kompos jerami padinya. Sebenarnya informasi ini bisa membuat lega untuk para petani padi kita karena mereka bisa menanam padi tanpa takut harga urea mahal. Yach�.  menanam padi tanpa perlu menggunakan pupuk kimia yang menjadi impian semua petani.

Setelah kita mengetahui hasil analisa kandungan kompos jerami padi sudah pasti kita harus memanfaatkannya untuk mengurangi biaya budidaya padi kita dan ada yang lebih penting lagi yaitu untuk mengembalikan kesuburan tanah kita. Jangan hanya mengambil solusi yang serba praktis dan mudah dengan cara membakar jerami (maspary).

Jumat, 01 Juli 2011

PETANI INDONESIA MASIH MISKIN

petani-indonesia Salam Pertanian. Apa kabar petani Indonesia? Kali ini Gerbang Pertanian hanya ingin sedikit membuka pandangan masyarakat terhadap keadaan petani Indonesia. Yang saya maksud kali ini adalah petani tanaman pangan terutama padi. Setelah beberapa tahun pemerintah Indonesia meluncurkan berbagai program untuk mendokrak stok pangan nasional ternyata ada yang masih dilupakan pemerintah, yaitu nasib petani itu sendiri. Sehingga seakan-akan petani hanyalah sebuah lilin, yang menerangi sekelilingnya namun sedikit demi sedikit dirinya akan terbakar habis.

Pemerintah perlu membuat terobosan kebijakan yang benar-benar memikirkan nasib petani kedepan. Jangan sampai keadaan petani semakin miskin dan tidak menentu sehingga generasi penerus petani akan habis karena menganggap menjadi petani tidak ada yang bisa diharapkan.

Penyebab utama kemiskinan petani adalah karena kepemilikan lahan yang relatif sempit. Kita biasa menyebutnya sebagai petani gurem. Rata-rata kepemilikan lahan petani Indonesia adalah dibawah 0,25 ha. Jika anda ingin mengetahui berapa kecil pendapatan seorang petani yang mempunyai lahan garapan 0,25 ha silahkan melanjutkan membaca artikel ini. Kisah dibawah ini hanyalah kutipan yang maspary baca dari sebuah harian kompas.

Ironis sekali ternyata petani Indonesia masih miskin. Pendapatan rumah tangga petani saat ini ada yang hanya Rp 300.000 per bulan. Itu pun kalau panen padinya dalam kondisi bagus dan iklim bersahabat. Perlu kebijakan revolusioner untuk mencegah pemiskinan petani yang semakin meluas.

Penelusuran Kompas di sejumlah sentra produksi padi di wilayah pantai utara Jawa dari Karawang, Jawa Barat, hingga Tegal, Jawa Tengah, sejak Minggu hingga Selasa (22/2/2011), menunjukkan, pemiskinan petani memang nyata terjadi.

Di lapangan, Mujib (35), pemuda warga Desa Randusari, Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal, menyatakan, saat ini ia hanya mengolah lahan sawah 0,25 bau atau sekitar 1.700 meter persegi (1 bau sekitar 0,7 hektar atau 7.096 meter persegi).

Lahan ini pemberian orangtuanya, mantan pegawai Kantor Urusan Agama Tegal. Pemilik lahan satu bau itu saat ini menggarap lahan sewa 0,25 hektar. Dengan mengolah lahan 1.700 meter persegi, pendapatan bulanan Mujib hanya Rp 300.000-Rp 400.000 per bulan. Itu pun dengan catatan kalau panen padi tidak ada gangguan.

Karena tidak mencukupi kebutuhan, sekalipun dia masih membujang, Mujib mencari tambahan penghasilan dari berjualan benih dan pupuk. Paling tidak untuk kedua usaha sampingannya itu, Mujib mendapatkan tambahan penghasilan bulanan Rp 100.000-Rp 200.000 per bulan. Dengan begitu, total penghasilannya menjadi Rp 500.000-Rp 600.000. Jumlah ini berbeda jauh dari pendapatan ayahnya yang dulu sebagai petani dengan lahan satu bau dan bekerja sebagai pegawai negeri sipil. 

�Meski saya sudah cari tambahan penghasilan, tetap kecil pendapatannya,� kata Mujib, yang pernah juga mencoba membudidayakan lele, tetapi malah merugi Rp 700.000. Berharap mendapat tambahan penghasilan, ia justru merugi.

Hadi Subeno (50), petani dari Desa Pegundan, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, saat ditemui sedang menjadi buruh panen di Desa Selapura, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal, mengatakan, selama ini ia hanya bertani pada lahan sewa seluas 1.700 meter persegi.

Dengan biaya sewa tanah sebesar Rp 1,5 juta sekali musim tanam, ia sering tidak bisa mendapatkan hasil. Rata-rata, hasil penjualan padi pada lahan tersebut sebesar Rp 2,5 hingga Rp 3 juta. Padahal, ia juga masih harus mengeluarkan biaya tanam sekitar Rp 1 juta. �Sering tidak dapat apa-apa, tidak nombok, tetapi juga tidak untung,� katanya.

Beberapa warga di Kecamatan Tanjung Morawa dan Lubuk Pakam, Deli Serdang, Sumatera Utara, beralih dari petani menjadi buruh tani lantaran hasil pertanian tidak mencukupi untuk menutupi kebutuhan hidup. Sekarang mereka hidup dengan mengandalkan upah buruh tani dan kerja serabutan.

Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin, saat dihubungi secara terpisah di Jakarta, juga mengakui pemiskinan petani yang menjadi-jadi dan terus meluas sebagai dampak fragmentasi lahan pertanian.

�Mau menggunakan perhitungan model apa saja, dengan kepemilikan lahan sempit tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidup mendasar mereka,� kata Bustanul menjelaskan. Ia menghitung, dengan kepemilikan lahan kurang dari 0,5 hektar, kebutuhan hidup petani yang bisa dipenuhi dari usaha pertanian mereka maksimal 54 persen.

Petani Indonesia masih miskin, pemerintah tidak boleh melupakan kesejahteraan petani kita. Harus ada kebijakan yang memberikan kepastian penghasilan bagi petani kita. Harus ada jaminan nilai jual terhadap hasil produksi para petani. Jangan sampai petani sudah mati-matian mempertahankan produksi tetapi akhirnya sangat dikecewakan oleh harga jual yang sangat murah (maspary).

Senin, 27 Juni 2011

PGPR MENGENDALIKAN LAYU DAN MENYUBURKAN TANAMAN

PGPR-plant-growth-promoting-rhizobacteriaSalam pertanian !! Beberapa pembaca Gerbang Pertanian menyarankan agar kami menyediakan PGPR yang siap aplikasi. Oleh karena itu kami kini telah menyediakan PGPR dengan harga yang murah, hal ini kami lakukan untuk membantu para petani yang memerlukan PGPR tetapi belum sempat atau malas membuatnya.

Tetapi sebelumnya maspary akan menguraikan manfaat, cara kerja dan cara aplikasi PGPR secara sederhana terlebih dahulu. Seperti kita ketahui PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) adalah mikroorganisme yang menguntungkan yang hidup disekitar perakaran. Jika di daerah perakaran suatu tanaman kekurangan mikroorganisme menguntungkan maka akan menyebabkan tanaman menjadi terserang berbagai macam penyakit akar seperti layu dan busuk akar. Selain itu tanaman juga akan mengalami hambatan dalam pertumbuhannya (kurang subur).

Banyak petani yang berfikiran salah tentang cara pengendalian penyakit layu pada beberapa jenis tanaman seperti cabe, tomat, terong dll. Mereka terlalu meyakini dan terlalu mengandalkan pestisida kimia untuk megendalikan penyakit perakaran. Padahal menurut pengalaman saya belum ada pestisida kimia yang efektif untuk mengendalikan penyakit layu pada tanaman cabe, terong maupun tomat, terutama penyakit layu yang disebabkan oleh bakteri. Kenapa saya mengatakan demikian ? karena saya pernah menggunakan agrept dan agrimicyn mulai dari perendaman benih, dipesemaian hingga di pertanaman, namun tanaman cabe dan tomat saya masih terserang oleh layu bakteri. Padahal harga bakterisida kimia (agrept, agrimicyn dan bactocyn) harganya sangat mahal jika dibandingkan dengan PGPR.

PGPR sangat diperlukan oleh tanaman karena memiliki banyak manfaat. Manfaat yang dapat terlihat secara nyata adalah bahwa PGPR mencegah dan mengendalikan penyakit layu dan dapat memacu pertumbuhan tanaman. Apa sebenarnya yang dilakukan oleh PGPR ini sehingga mampu mengendalikan penyakit layu dan menyuburkan tanaman?

  1. PGPR memproduksi antibiotik untuk melindungi tanaman dengan cara menghambat pertumbuhan penyakit perakaran
  2. PGPR menjadi pesaing patogen penyebab penyakit dalam mendapatkan makanan disekitar perakaran sehingga pertumbuhan patogen merugikan menjadi berkurang.
  3. PGPR  merangsang pembentukan hormon atau ZPT Auksin, Sitokinin dan Giberellin sehingga tanaman terlihat lebih subur
  4. PGPR menghambat produksi etylen (zat yang menyebabkan tanaman cepat tua dan mati)
  5. PGPR meningkatkan penyerapan dan pemanfaatan unsur N oleh tanaman
  6. PGPR meningkatkan kemampuan tanaman dalam menyerap unsur Fe
  7. PGPR meningkatkan kemampuan tanaman dalam menyerap unsur S
  8. PGPR meningkatkan ketersediaan unsur P
  9. PGPR meningkatkan ketersediaan unsur Mn

Adapun cara aplikasi PGPR adalah sebagai berikut:

  1. PGPR Untuk perlakuan benih. Benih yang dibeli dari toko dan diduga mengandung pestisida cuci dulu sampai bersih hingga 3 � 4 kali. Rendam benih dalam larutan PGPR dengan konsentrasi 10 ml per liter air selama 10 menit hingga 8  jam tergantung jenis benihnya. Kemudian kering anginkan di tempat yang teduh sebelum dilakukan penanaman.
  2. PGPR Untuk perlakuan bibit. Jika untuk perlakuan bibit dan stek atau biakan vegetatif lain tinggal direndam beberapa saat saja lalu langsung ditanam. Konsentrasi yang diperlukan adalah 10 ml per liter air.
  3. PGPR Untuk perlakuan pada tanaman. Buat PGPR dengan konsentrasi 5 ml per liter air. Untuk aplikasi pada tanaman semusim (cabe, terong, timun dll) siramkan 1 - 2 gelas aqua larutan tadi  ke daerah perakaran. Jika untuk tanaman tahunan jumlah larutan yang digunakan dapat diperkirakan sendiri sesuai dengan umur dan jenis tanaman, sebagai ukuran adalah siram daerah perakaran sampai basah.

Lama waktu peredaman benih atau bibit dengan PGPR

NO

BENIH ATAU BIBIT

WAKTU  PERENDAMAN

  1 Padi, cabai, terong dan kangkung

2 � 8 jam

  2 Stek tanaman berkayu dan bahan biakan dengan rhizoma (pisang, aglaonema dan sebagainya)

2 � 8 jam

  3 Kacang-kacangan (kacang panjang, kedelai, buncis, kacang tanah dan sebagainya)

5 � 15 menit

  4 Timun-timunan (mentimun, semangka, melon dan sebagainya)

5 menit

  5 Jagung dan tomat

15 � 30 menit

  6 Bayam dan kubis-kubisan (pak choi, caisin, kubis dan sawi putih)

5 menit

Perlakuan PGPR pada berbagai tanaman

NO

JENIS TANAMAN

PERLAKUAN AWAL

PERLAKUAN SUSULAN

  1 Benih yang disemaikan dan memiliki umur produktif kurang lebih 30 hari (bayam, caisin dan sebagainya) Perlakuan benih 1 minggu setelah tanam dan 2 minggu setelah tanam
  2 Benih tanam langsung dengan umur tanaman kurang lebih 60 hari (Jagung manis) Perlakuan benih 3 minggu setelah tanam dan 5 minggu setelah tanam
  3 Benih disemaikan dengan usia tanam 3 � 4 bulan (padi, cabe, terung, melon dan sebagainya) Perlakuan benih 1 minggu sebelum pindah tanam, 3 atau 5 minggu setelah tanam
  4 Benih tanam langsung dengan umur tanaman kurang lebih 3 bulan ( jagung, kacang panjang, kedelai, mentimun dan sebagainya Perlakuan benih 3  minggu setelah tanam, 7  atau 9 minggu setelah tanam
  5 Tanaman berumur kurang lebih 12 bulan (pisang) Perlakuan benih atau bibit Perlakuan dilakukan sebulan sekali sejak ditanam hingga tanaman berumur 1 bulan sebelum panen
  6 Tanaman disemaikan dengan umur kurang lebih 3 tahun (pepaya) Perlakuan benih 1 minggu sebelum pindah tanam dan  penyiraman satu bulan sekali setelah pindah tanam.
7 Tanaman tahunan Perlakuan benih atau bibit Penyiraman 1 bulan sekali.

Jika rekan-rekan Gerbang Pertanian ada yang berminat untuk membeli PGPR silahkan hubungi maspary 081 226 302 97 (SMS only). Harganya murah cuma 10.000 per 600 ml (1 botol aqua). Untuk mengetahui tata cara pembelian silahkan klik disini. Untuk melihat produk yang lain dari Gerbang Pertanian silahkan klik disini.

Trimakasih telah meluangkan waktu untuk membaca artikel dari Gerbang Pertanian, semoga informasi yang kami sampaikan kali ini bisa memberikan manfaat bagi pembaca semua.

Kamis, 23 Juni 2011

MENGEMBANGKAN INSEKTISIDA BIOLOGI BEAUVERIA BASSIANA

mengembangkan-beauveria-bassiana Salam Pertanian!! Beberapa waktu lalu kita telah belajar tentang apa itu insektisida biologi Beauveria bassiana, kini kita akan belajar cara sederhana mengembangkan insektisida biologi jamur Beauveria bassiana. Tentunya masih bersama Gerbang pertanian.

Sebenarnya sangat mudah mengembangkan jamur ini, kalau rekan-rekan Gerbang Pertanian pernah membaca artikel terdahulu kami tentang cara mengembangkan jamur Trichoderma sp pasti sudah nggak asing lagi dengan cara mengembangkan jamur Beauveria bassiana.

Adapun alat dan bahan yang perlu dipersiapkan untuk mengembangkan Insektisida biologi  jamur Beauveria bassiana adalah:

  1. Isolat jamur Beauveria bassiana
  2. Ember atau baskom kecil
  3. Baskom peniris
  4. Plastik 1/4 kg dengan ketebalan 0,4 sepuluh buah
  5. Lilin lima buah
  6. Steples
  7. Kawat atau sendok kecil spatula
  8. Panci Dandang
  9. Alkohol 75 %
  10. Air bersih
  11. Beras giling atau jagung giling 1 kg

Kalau alat bahan telah lengkap sekarang bersama maspary kita praktekkan cara membuatnya:

  1. Cuci bersih beras dan rendam selama 24 jam
  2. Tiriskan sampai kering
  3. Masukkkan beras kedalam plastik @ 100 gr
  4. Lipat ujung plastik
  5. Masak beras dengan cara di kukus selama kurang lebih 1,5 � 2 jam
  6. Setelah dingin angkat beras tersebut dari panci dandang
  7. Nyalakan lilin 5 buah dan letakkan membentuk setengah lingkaran dimeja
  8. Masukkan kawat atau sendok spatula kedalam alkohol dan bakar  di salah satu lilin tersebut
  9. Setelah kawat agak dingin ambil sebagian isolat dalam tabung reaksi dan masukkan kedalam beras
  10. Lipat beberapa kali ujung plastik dan steples
  11. Letakkan dalam suhu kamar sampai 7-14 hari
  12. Jika sudah tumbuh miselium berwarna putih secara penuh berarti insektisida biologi Beauveria bassiana siap digunakan.

Setelah Insektisida biologi Beauveria bassiana telah siap kini saatnya menggunakannya untuk beberapa jenis serangga, wereng, walang sangit, ulat, kumbang dll. Mari kita coba aplikasikan insektisida tersebut bersama Gerbang Pertanian:

  1. Ambil salah satu beras dalam plastik yang telah ditumbuhi meselium Beauveria basiana
  2. Cuci dengan air 1 liter dengan cara diremas-remas sampai bersih
  3. Saring dengan kain, ambil air cuciannya.
  4. Campurkan air tersebut dengan air 14 � 17 liter dan masukkan kedalam tangki sprayer.
  5. Semprotkan ke tanaman dengan frekuensi 1 minggu sekali. Jika serangan berat bisa seminggu 2 kali.
  6. Jangan lupa nyemprotnya sore hari ya, karena kalau siang hari jamur Beauveria basiana akan mati kepanasan.

Masih ada yang belum jelas tentang cara mengembangkan insektisida biologi Beauveria bassiana dan cara pengaplikasiannya di lapangan? silahkan hubungi maspary SMS aja ya�  Penginnya sih telpon cuma kalo telpon kadang-kadang timingnya yang nggak tepat.

Sekian dulu pertemuan dengan Gerbang Pertanian kali ini dengan tema Mengembangkan Insektisida Biologi Beuveria Bassiana. Smoga bisa memberikan sedikit pencerahan bagi rekan-rekan yang sedang haus akan ilmu pertanian khususnya pertanian organik. Jika ada kesalahan kami mohon maaf yang sebesar-besarnya (maspary).

Senin, 20 Juni 2011

MEMBUAT TORTILLA DARI AMPAS TAHU

tortilla-ampas-tahu Salam pertanian!! Sebelum kita membahas tentang cara membuat tortilla dari ampas tahu Maspary ingin tanya dulu apa ada yang belum tahu atau belum pernah makan  tortilla? Tortilla pada umumnya merupakan makanan ringan berbentuk keripik dengan bahan baku jagung.  Tortilla sebenarnya dapat dibuat dari berbagai bahan terutama yang mengandung pati atau bahan tidak berpati dengan penambahan tepung pati. Bahkan jika ingin menambahkan nilai gizi pada tortilla yang akan kita buat kita bisa juga menambahkan susu.

Pemanfaatan ampas tahu sampai saat ini belum maksimal, biasanya hanya untuk penambahan pakan ternak. Tapi kalo di Banyumas sudah lumayan lo�.. ampas tahu kalo di Banyumas biasanya dibuat makanan yang namanya temlek. Yaitu ampas tahu dikasih bumbu lalu dibentuk bulat dan dibungkus tepung lalu digoreng. Ampas tahu merupakan hasil samping dalam proses pembuatan tahu berbentuk padat dan diperoleh dari bubur kedelai yang diperas. Ampas tahu mempunyai kandungan protein yang sangat tinggi, sayang kalau tidak dimanfaatkan. Maka dari itu mari kita belajar cara  membuat tortilla dari ampas tahu.  Udah nggak sabar ingin membuat ya?

Bahan baku :

  1. Jagung 0,7 kg
  2. Ampas tahu 0,3 kg
  3. Garam dapur 12,5 gram
  4. Bawang Putih 20 gram
  5. Penyedap, air dan minyak goreng secukupnya.

Cara pembuatan:

  1. Jagung yang telah direndam dalam larutan kapur kemudian digiling.
  2. Ampas tahu dikukus. Jika menggunakan ampas tahu segar sebaiknya dipres (ditekan) terlebih dahulu sedangkan jika menggunakan tepung ampas tahu, lakukan penambahan air dengan jumlah sesuai berat ampas atau sampai basah.
  3. Campur ampas tahu, bumbu, dan jagung giling (dapat juga dari jagung yang belum digiling) lakukan penggilingan agar adonan tercampur rata.
  4. Lakukan pemipihan adonan dengan mesin pembuat pasta sampai ketebalan 1-2 mm.
  5. Lakukan pemotongan dengan ukuran yang seragam.
  6. Keringkan pada oven pengering.
  7. Lakukan pengemasan atau penggorengan.

Mudah sekali ya cara membuat tortilla dari ampas tahu. Kalo ingin menambah nilai gizinya bisa menambahkan susu pada adonan tersebut. Semoga pertemuan dengan Gerbang Pertanian kali ini bisa bermanfaat bagi kita semua terutama bagi pembaca yang sedang mencari artikel cara membuat tortilla dari ampas tahu (maspary).