Jumat, 04 Juni 2010

MENYULUH DENGAN CINTA

cinta Salam pertanian! Rekan-rekan penyuluh pertanian pernahkah anda jatuh cinta? Tentunya pernah bukan? rasanya bagaimana? Luar biasa bukan? Memang yang namanya cinta itu memiliki 5 dimensi, bila rekan-rekan merasakan hal-hal dibawah ini berarti rekan-rekan semua sedang mengalami jatuh cinta:

  1. Senang Luar biasa pada yang kita cintai
  2. Ingin selalu melakukan yang terbaik pada yang kita cintai
  3. Mau berkorban demi yang kita cintai
  4. Selalu merindukan yang kita cintai
  5. Memberi tanpa mengharapkan kembali pada yang kita cintai

Yach memang cinta itu memang luar biasa cuma sayang kadang kita merasakannya hanya saat kita tertarik pada lawan jenis kita. Kita hanya bisa mencintai pacar kita, mencintai istri kita, mencintai anak-anak kita, mencintai orang tua kita. Sekarang bayangkan seandainya apapun yang kita lakukan dalam pekerjaan penyuluhan kita kita dasari dengan rasa cinta. saya yakin kita akan selalu enjoy dan ikhlas dalam melaksankan tugas-tugas kita dalam membina dan mendampingi petani. Kita akan bangga dan bahagia mendapatkan tugas sebagai seorang penyuluh.

Memang kita harus belajar mencintai profesi kita sebagai seorang penyuluh pertanian. Tanpa cinta takkan ada ketulusan kerja, kita akan selalu menggerutu, menyesal, mengeluh, dan akan selalu mengharapkan imbalan-imbalan yang bersifat materi pada apa yang telah kita lakukan.

Seandainya kita melakukan penyuluhan dengan cinta dari hati tentunya kita akan selalu senang dengan profersi kita, penyuluhan akan selalu kita lakukan dengan tersenyum. Petani selaku pasien kita akan selalu kita beri senyum yang tulus sebagai tanda kita senang dalam hati.

Dengan cinta pekerjaan kita akan selalu kita rencanakan dengan seksama dan dengan perencanaan yang terbaik tentunya. Kegiatan penyuluhan akan kita lakukan berdasarkan apa yang terbaik dari diri kita dan apa yang yang terbaik dalam diri kita akan kita berikan pada petani.

Rasa rela berkorban kepada saudara-saudara kita petani akan selalu ada dalam diri kita. Bukan hanya berkorban materi namun juga inmateriil dan tentunya berkorban secara iklas. Korban materi, korban waktu, korban tenaga dan korban pemikiran tentunya.

Sudahkah anda merindukan petani selaku mitra kita? Rasa ingin selalu bertemu dan ingin selalu berbikir dan berkarya bersama membangun kelompok tani dengan tujuan akhir meningkatnya kesejahteraan mereka.

Kita tidak lagi akan menghitung-hitung apa yang telah aku berikan pada petani dan apa yang telah kelompok berikan kepada kita. Segala sesuatu yang kita berikan kepada kelompok tani adalah merupakan sesuatu yang tak pernah kita harapkan imbalannya. Suatu kebanggaan tersendiri jika kita mampu dan bisa memberikan sesuatu milik kita pada petani. Dan rasa ingin memberi akan selalu ada dan menggebu dalam hati.

-by maspary-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar